Selain itu, hilangnya kekhasan kuliner Sleman juga didukung dengan semangat masyarakat dalam melestarikannya kian menurun. “Berdasarkan hasil inventarisasi saya, kuliner tradisional di DIJ ada 275. Sleman yang paling kecil, 23 jenis kuliner,” tegas Minta saat diskusi lintas ekonomi kreatif sektor kuliner di Mlati kemarin (30/3).
Menurutnya, kuliner di Kabupaten Sleman bisa semakin kuat dan kembali terangkat saat pemetaan gastronomi dilakukan. Bisa dimulai dari tingkat kapanewon. Mencari nilai sejarah makanan di wilayah tersebut, kemudian dikembangkan dengan beragam inovasi. “Menjadi makanan yang dikemas unik,” ungkapnya.
Selain itu, makanan tradisional yang ada bisa digabungkan dengan makanan modern. “Apapun yang dikembangkan, tetap disertakan kuliner kekhasan dari masing-masing wilayah,” sambungnya.
Eksekutif Chef Jambu Luwuk Anton Yanuar pun turut membagikan inovasi makanan khas tradisonal. Yakni cara mengolah sushi gudeg dan pasta oseng-oseng mercon. Kolaborasi makanan tradisional dan modern tersebut, dinilai akan lebih mengangkat kuliner. Namun dengan menjaga kuliner tradisional. "Lebih unik dan bikin penasaran untuk mencicipi," katanya.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman Aris Herbandang berharap, pelaku kuliner restoran dan asosiasi pengusaha jasa boga Indonesia (APJI) Sleman bisa menangkap peluang wisata di sektor kuliner.
Karena dalam penelitian disebutkan, mayoritas wisatawan membelanjakan keperluan kuliner hingga 20 persen. Sedangkan 36 persen untuk membeli oleh-oleh, yang di dalamnya tak lepas dari kuliner. "Sebab kuliner berpotensi mendongkrak kunjungan wisata, dalam recovery ekonomi pascapandemi," tandasnya. (mel/eno) Editor : Editor Content