Konsep kegiatan adalah untuk memperkuat kapasitas masyarakat Jatimulyo dalam pengelolaan Desa Ramah Burung. Salah satunya adalah Lomba Sapa Burung Jatimulyo 2022. Bertempat di kelurahan Jatimulyo, kapanewon Grimulyo, Kabupaten Kulonprogo.
"Bahwa kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak dan komunitas. Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) hadir sebagai pemandu peserta untuk memperkenalkan tata cara pengamatan burung," jelas Ketua Panitia Lomba Sapa Burung Suhandri.
Setiap tim terdiri atas 3 anggota Karang Taruna dan didampingi oleh 1 pemandu dari PPBJ. Kegiatan pengamatan burung dilaksanakan di beberapa dusun yang ada di Jatimulyo. Meliputi dusun Gunung Kelir, Dusun Sokomoyo, Dusun Kembang dan Dusun Banyunganti.
Menurutnya, masyarakat belum sepenuhnya paham tentang konsep konservasi. Terbukti dengan masih maraknya berburu burung liar di alam. Atas keresahan ini, KTH Wanapaksi mengembangkan kegiatan adopsi sarang burung.
"Hingga saat ini, kegiatan adopsi sarang burung telah berhasil memastikan 40 anakan burung berhasil terbang bebas di alam liar tanpa gangguan dari predator maupun tangan usil para pemburu," katanya.
Seniman Jogjakarta Anang Batas juga bergerak dalam bidang konservasi. Dimulai dengan memotret gunung Merapi dan beralih ke pengamatan burung di Jatimulyo. Aktivitas ini berlangsung sejak awal pandemi Covid-19.
Sinergi yang tercipta di Jatimulyo, menurutnya, membuktikan bahwa peran setiap pihak sangat penting. Adanya sistem sosial yang tercipta dari program adopsi burung merupakan suatu nilai tambah tersendiri.
"Bukan kekuatan yang membuat kita bersama, tapi kebersamaan yang membuat kita kuat," ujarnya.
Kegiatan pengamatan langsung berhasil memantau sejumlah burung. Seperti Cucak delima (Rubigula dispar), Bondol jawa (Lonchura leucogastroides), Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis) dan Cabai bunga-api (Dicaeum trigonostigma). (om17/Dwi) Editor : Editor News