Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Lagi Langka, Masyarakat Keluhkan Harga

Editor Content • Sabtu, 19 Maret 2022 | 17:28 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Usai dicabutnya kebijakan HET, harga migor semakin melambung. Sekitar Rp 23.900 per liter. Masyarakat pun masih mengeluhkan kondisi ini. Seperti halnya Edi, 45, yang berprofesi sebagai penjual gorengan di Karangwuni, Sleman.

Mahalnya migor, mempengaruhi omzet penjualannya setiap hari. Untuk menekan kerugian, Edi terpaksa harus mengecilkan ukuran gorengan yang dijualnya. “Kalau harga gorengan dinaikkan, nanti pembeli kabur,” keluhnya Jumat (18/3).

Sementara pengamat ekonomi Ahmad Ma’ruf menilai,
kelangkaan migor disebabkan karena kebijakan domestic market obligatin (DMO) dari pemerintah terlambat untuk mengantisipasi kenaikan harga internasional. Pricing dari produsen pun, menjadi mahal. Sedangkan produksi sawit di Indonesia selama ini, tidak mengalami permasalahan. “Sawit tetap produktif dan bahkan luas lahannya bertambah,” ungkapnya.

Dosen UMY tersebut menambahkan, tampak permainan oligopoli dalam kasus minyak sawit di Indonesia. Menurutnya, pemerintah tidak boleh diam dan harus melakukan tindakan nyata untuk para pemain sawit di Indonesia.

Karena dalam kasus ini, masyarakat atau konsumen yang dirugikan. Sementaera pelaku bisnis, hanya mengutamakan keuntungan semata dan mengabaikan hak dasar rakyat. “Padahal mayoritas lahan sawit merupakan milik negara. Pengusaha mendapat CPO (minyak sawit) dari pohon sawit di tanah rakyat,” kata Ahmad. (cr5/eno) Editor : Editor Content
#minyak goreng #Sleman