Sekretaris Komunitas Pejuang 45 Djokjakarta sekaligus Sekretaris Panitia Teaterikal Handono Prasetyo mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah, khususnya SO 1 Maret. Alasan kegiatan digelar di kalurahan ini, lantaran memiliki potensi sejarah. Di kalurahan ini terdapat tetenger Tentara Genie Pelajar (TGP) dan diabadikan dengan nama Stadion TGP, Margoluwih.
Pada 1948 Jogja diduduki Belanda. Nah, peran pemuda yang tergabung dalam TGP sangat aktif dalam merespons agresi Belanda. Mereka mengadakan gangguan-gangguan, sabotase terhadap pos Belanda yang berada di pinggiran Kota Jogja.
“Di Margoluwih ada TGP yang khusus merakit bom peledak. Tetengernya ada di Stadion TGP,” ungkap Handono di lokasi kemarin (6/3). Teatrikal ini menyajikan kiprah sebagian kecil dari peristiwa 1 Maret. Terutama yang ada di daerah ini. Tidak hanya tokoh besar yang terlibat, melainkan tokoh di bawah pun sangat berperan.
Diceritakan, Margoluwih, Seyegan, lalu juga Kapanewon Godean dan sekitarnya, dulu pasca agresi militer Belanda II dilancarkan, Padukuhan Cibuk menjadi markas para sabrang. Seperti Kebaktian Rakyat Indonesia Serikat (KRIS) dari Sulawesi, hingga tokoh yang menonjol dalam perannya. Yakni Maryor Ventje Sumual, Komandan SPK 103. “Kami akan pentaskan itu,” bebernya.
Menurutnya, penggambaran suasana masa lalu di tengah pemukiman warga ini sangat menunjang. Antusias masyarakat tinggi. Respons atau antusiasme menggali sejarah juga tinggi. Penggalian sejarah lokasi setempat juga dilakukan oleh komunitas sepeda di Padukuhan Cibuk.
Selain itu wilayah ini memiliki potensi alam yang mendukung. Masih banyak pohon bambu, jerami, dan pesawahan yang mendukung sebagai latar belakang teatrikal. “Persiapannya satu bulan, dari awal menggerakkan masyarakat setempat hingga konteksnya,” katanya.
Kepala Bidang Pemeliharaan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ Tri Agus Nugroho mengatakan, kegiatan ini merupakan serangkaian peringatan SO 1 Maret. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari. Sehari sebelumnya ditekankan pada substansi.
Kemudian dilanjutkan dengan roll playing manca krida jambore kesejarahan.
“Teaterikal ini merupakan modifikasi pengayaan kesejarahan agar tidak monoton, hanya monolog cerita atau membaca teks. Sehingga masyarakat menjadi lebih paham sejarah,” terang Agus. Manca Krida Jambore Kesejahteraan ini kali kedua digelar di DIJ. Pada 2016 pernah digelar di Naggulan, Kulonprogo. Rangkaian kegiatan peringatan SO 1 Maret digelar sejak 28 Februari hingga 31 Maret mendatang.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, kegiatan ini menjadi wahana dalam menapaki dan merefleksi kembali momentum perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Dja mengajak masyarakat untuk memberi kontribusi sebagai warga negara.
Kontribusi yang dimaksud adalah sebagai warga negara Indonesia, harus memiliki nilai-nilai para pejuang di dalam diri. Yakni, berkepribadian yang kuat, memiliki semangat patang menyerah, jiwa patriotik, serta berjiwa nasional.
“Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya dan menghormati jasa para pahlawannya. Saya berharap kegiatan ini dapat semakin memupuk kesadaran kita bersama tentang pentingnya nilai-nilai perjuangan bangsa sebagai sebuah jati diri,” pesannya. (mel/laz) Editor : Editor Content