General Manager Angkasa Pura I Agus Pandu Purnama mengatakan nantinya kendaraan ini akan digunakan sebagai alat transportasi di lingkungan Yogyakarta International Airport (YIA). Terutama untuk mengantar penumpang dari pintu keberangkatan menuju ruang tunggu. Penumpang juga bisa menaiki GATe dari pintu kedatangan sampai ke bagasi.
"Jaraknya memang cukup (jauh) untuk jalan. Mungkin ini prioritas untuk difabel, orang tua, atau penumpang yang kesusahan membawa barang. Jadi ini Insya Allah sangat bermanfaat bagi kami Angkasa Pura I khususnya Bandara YIA," jelas Pandu ditemui di Balairung UGM, Jumat (4/3).
Usai dicoba, Pandu mengaku kendaraan GATe nyaman dan mudah untuk dikendarai. Dia berharap kerjasama dengan UGM tak berhenti sampai di sini. Pasalnya, pihaknya dan PT Angkasa Pura II memiliki 15 bandara lainnya.
"Kendaraan ini sangat dibutuhkan di bandara kami khususnya YIA yang merupakan pilot project karena kami punya 15 bandara lainnya di Angkasa Pura I dan 15 lainnya di Angkasa Pura II. Ini ke depan barangkali produk anak bangsa ini akan digunakan di seluruh bandara di Indonesia," ujar Pandu.
Ketua Pengembangan GATe Arif Wibisono menjelaskan kendaraan listrik ini berkapasitas 6 penumpang. GATe dapat melaju hingga kecepatan 21 kilometer/ jam. Uji coba sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus UGM, YIA dan Candi Borobudur.
Nantinya, FT UGM akan menyerahkan sebanyak 7 unit GATe kepada PT. Angkasa Pura I. Setidaknya dapat menjadi fasilitas penunjang di YIA. Untuk melayani penumpang penerbangan dengan kapasitas setidaknya 26 ribu orang dalam satu tahun.
"Kami masuk tahun ketiga untuk finalisasi sehingga ini sudah cukup matang. Setelah itu bisa digunakan di berbagai tempat. Kalau per unit dibanderol Rp. 150 juta,” ujar Arif. (isa/dwi) Editor : Editor News