Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Vaksin Bukan Mencegah tapi Efektif Meringankan Gejala

Editor Content • Kamis, 27 Januari 2022 | 15:55 WIB
BAYU SATRIA WIRATAMA FOR RADAR JOGJA
BAYU SATRIA WIRATAMA FOR RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dan Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi mengaku positif Covid-19 meski sudah mendapatkan vaksinasi booster pada Desember 2021 lalu. Tapi ternyata vaksin booster tak menjamin tak terpapar Covid-19.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, SLEMAN, Radar Jogja

Berdasarkan kacamata Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Satria Wiratama, booster bukan untuk mencegah persebaran Covid-19. Tetapi lebih efektif meringankan gejala persebaran virus.

Ada berbagai macam vaksin yang dikucurkan, mulai dari Coronovac produksi Sinovac, Astrazeneca, Moderna, Pfizer dan Sinopharm. Bayu menceritakan, sudah banyak studi berbagai macam vaksin dan booster telah dilakukan.

Coronavac misalnya, vaksin ini berasal dari Tiongkok ini telah dilakukan sebanyak lima sampai enam studi. “Vaksin ataupun booster tidak 100 persen menangkal maupun penyembuhkan virus. Tetapi 100 persen meringankan dampak infeksius Covid-19," kata Bayu dihubungi, kemarin (26/1). "Misalnya, bila seseorang terkena Covid-19 dan sudah di vaksin booster, maka dampak ringan menjadi orang tanpa gejala (OTG), dampak sedang menjadi ringan.”

Sehingga tidak sampai menimbukan gejala berat, penyembuhannya cukup dengan beristirahat dan mengurangi kontak dengan orang lain. Sebagaimana aturan prokes. Kendati begitu, penerapan prokes menjadi kunci bagi masyarakat umum.

"Bagaimana OTG tidak sampai menularkan kepada lansia apalagi komorbid. Ini yang dikhawatirkan, kalau tidak prokes," terangnya. Jangan sampai hal ini justru memicu lonjakan persebaran layaknya kasus varian delta pada Juni-Juli 2021.

Sulit membedakan apakah seseorang terkena varian Omicron atau bukan. Sebab gejalanya hampir mirip dengan flu biasa, ada yang disertai diare, tidak enak badan atau demam, juga merasakan anosmia atau kehilangan indera penciuman. "Namun rata-rata gejala Omicron lebih ringan dibandingkan dengan delta. Tetapi tingkat kesembuhannya tergantung dengan imunitas masing-masing orang," katanya.

Untuk itu dibutuhkan inisiatif, bila mengalamibgejala tersebut segera memeriksakan diri, melakukan swab di puskesmas setempat. Untuk mendeteksi jenis virus, harus pemeriksaan ke laboratorium. Pengujian sampel di atas polymerase chain reaction (PCR) biasa, paling tidak menggunakan PCR-SGTF (S-gene target failure) atau bisa juga whole genome sequencing (WGS). "Itu baru terdeteksi orang ini kena omicron maupun delta," bebernya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama menambahkan, masa inkubasi omicron lebih cepat dibandingkan dengan varian delta. Yakni, hanya tiga hingga enam hari sudah dapat sembuh. Jika dibandingkan dengan varian delta lebih ringan. Masa inkubasi varian delta bisa sampai 14 hari.

Cahya menuturkan, Dinkes DIJ telah memberikan arahan kepada laboratorium pemeriksa PCR, jika ada CT Value kurang dari 25, agar dibawa ke Balitbangkes Pusat untuk diperiksa omicron-nya. Pemeriksaan membutuhkan waktublama palingvtida dua sampai tiga minggu. "Biaya pun masih mahal, satu sampelnya bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 6 juta," katanya.

Direktur RSUD Sleman Novita Krisnaeni menambahkan, hasil PCR Bupati Sleman Kustini menjadi salah satu pengujian sampel omicron yang akan dilakukan uji laboratorium di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BPKL-PP) Jogjakarta. "Iya kirim sempel omicron di BPKLPP Jogja udah bisa," bebernya. Sebelumnya, RSUD Sleman telah mengirimkan tiga sampel untuk mendeteksi apakah persebaran omicron telah sampai di Sleman. (mel/pra) Editor : Editor Content
#Bupati Sleman