Sang anak Bejo Wiryanto, 59, menuturkan Mbah Carik sudah sakit-sakitan sejak 1,5 tahun lalu. Dari kondisi kesehatan tidak ada catatan penyakit kronis. Hanya saja fisiknya terus melemah seiring usia yang terus bertambah.
“Ibu sudah 1,5 tahun sakit, memang sakit tua. Tidak ada penyakit, hanya sepuh. Sudah bertahun-tahun makannya hanya nasi putih, bubur tidak pakai santen lalu tempe dan tahu rebus,” jelasnya ditemui di rumah duka Kaliurang, Hargobinangun, Pakem Sleman, Rabu (12/1).
Sosok Mbah Carik sendiri merupakan generasi ketiga dari pewaris Mbah Carik Jadah Tempe Kaliurang. Tokoh pertama adalah Ngadikem Sastro Dinomo. Nama Mbah Carik merupakan jabatan saat menjabat sebagai Carik di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Nama ini kemudian diwariskan kepada sosok Sudimah Wiro Sartono. Hingga akhirnya menjelma jadi sosok terkenal penjual jadah tempe dari kawasan Kaliurang. Tercatat saat ini Mbah Carik sudah memiliki 8 oultet yang tersebar di seluruh Jogjakarta.
“Mbah Kakung dulu Carik Keraton. Sama beliau Kanjeng Putri Hastungkoro lalu diminta berjualan jadah tempe di Kaliurang. Kalau sekarang outlet sudah delapan, terakhir yang di Kotagede,” katanya.
Amanah kerabat keraton ini juga bertujuan menaikan kesejahteraan warga Kaliurang. Dengan cara menjual oleh-oleh khas dari Kaliurang. Hingga sekarang tercatat sudah ada ratusan penjual jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang.
Warisan amanah tak hanya berhenti di generasi pertama. Sudimah Wiro Sartono juga mengemban tugas yang sama. Begitupula kepada anak cucu keturunan dari tokoh penjual jadah tempe ini. Bejo dan ketiga saudaranya adalah generasi ketiga pewaris Mbah Carik.
“Pesan simbah tidak bisa kerjasama dengan orang lain harus kalangan keluarga. Tapi ada amanah kewajiban harus ngajari orang agar bisa jualan jadah tempe dan punya rejeki dari jadah tempe. Ibu (Sudimah Wiro Sartono) sudah memberikan ilmu ke 67 pedagang jadah tempe di Kaliurang,” ujarnya.
Dari pernikahannya, Sudimah Wiro Sartono memiliki 9 anak. Lima dari kesembilan anak tersebut sudah meninggal dunia. Mbah Carik generasi kedua ini juga memiliki 12 cucu.
“Keluarga kumpul semua hari ini. Untuk pemakaman, ibu dimakamkan di pemakaman Mayang Sekar Kaliurang Timur disamping makam bapak,” katanya.
Kerabat Keraton Ngayogykarta Hadiningrat GBPH Yudhaningrat terlihat melayat di kediaman Mbah Carik. Adik GBPH Prabukusumo ini menilai Mbah Carik sebagai sosok yang lugu. Saat masih kecil, Gusti Yudha, sapaannya, kerap berkunjung ke Kaliurang bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
“Orangnya lugu, jadi saya tahu mbah carik itu mulai kecil ya karena almarhum HB IX itu sering di Kaliurang, berserta putra garwa dan sedikit abdi dalem. Kalau pagi setelah mandi gitu sering diajak ibu ke tempat mbah carik ini, dulu hanya pecel jadah tempe ala kadarnya,” kenangnya. (dwi) Editor : Editor News