Batik sekar tanjung misalnya. Namanya diambil dari bunga tanjung. Pohon tanjung ini berasal dari India, Sri Langka dan Burma. Tetapi tumbuh subur di Margodadi. "Pohon ini banyak dijumpai di wilayah kami, Padukuhan Beran dan sekitarnya," ungkap Ketua kelompok batik sekar tanjung Poernamawati kepada Radar Jogja, Senin (20/12).
Nama tanjung juga diambil dari nama bukit Tanjung di wilayah Margodadi. Sehingga semakin menambah daya lekat khas lokal. Selain itu, bunga tanjung memiliki bentuk yang indah. Bunga dan daunnya yang berkelok, cocok dijadikan sebagai motif batik. "Kami akan eksplorasi ini. Mengembangkan motif bunga tanjung," bebernya.
Demikian juga batik kencono. Kelompok batik ini juga mengangkat potensi padukuhan yang didominasi dari Padukuhan Grogol. Yakni, berupa yuyu kencono, tampah cetil dan motif genting. "Untuk sementara ini kami tonjolkan yuyu kencono. Ikonnya Desa Wisata Grogol," ungkap ketua tim pengelola pembatik kencono Etik Susilowati.
Yuyu banyak ditemui di sekitaran Desa Wisata Grogol lantaran lokasinya yang kaya dengan mata air. Menurutnya, yuyu memiliki bentuk yang tak kalah unik sebagai motif batik. Sementara tampah cetil diambil dari perabotan memasak dan makanan jaman dulu. Tampah, perabotan memasak berupa nampan yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu. Kemudian cetil makanan jaman dulu yang terbuat dari tepung beras. "Kalau genteng, diambil karena sebagian masyarakat Margodadi masih berprofesi sebagai pengrajin genteng,"sambungnya.
Etik yang juga menjabat sebagai Kaur Pangripta Kalurahan Margodadi ini menjelaskan, dua kelompok batik ini belum lama dibentuk. Kiranya sekitar Oktober dan baru dikukuhkan pada Sabtu (18/12). Masing-masing kelompok terdiri dari 20 orang. Pencanangan kelompok batik ini merupakan program pelatihan Pemerintah Provinsi DIJ. Bagian program desa mandiri dan budaya yang dananya disupport dari danais senilai Rp 20 juta dan diwujudkan dalam program pemberdayaan ibu rumah tangga melalui pelatihan membatik selama sebulan.
Selama pelatihan berlangsung masing-masing kelompok menciptakan 60 kreasi batik sesuai khas masing-masing. Baik batik tulis, cap maupun kolaborasi. Ditambah eksplorasi dari masing-masing anggota. "Tidak disangka greget ibu rumah tangga luar biasa," ujarnya.
Saat pencanangan kelompok batik pada 18 Desember lalu, mereka mendapatkan wadah promosi sekaligus dukungan dari Pemerintah Sleman. Mereka pun mendapatkan apresiasi hingga batik ikonik tersebut laris terjual. "Kami menganggap ini sebuah peluang. Ke depan kelompok batik di Kalurahan Margodadi semakin eksis," ungkap perempuan asal Grogol ini.
Dia berharap, peluang ini menjadi energi baru. Mampu mendongkrak perekonomian warga. Khususnya anggota kelompok batik yang didominasi usia lanjut. (mel/pra) Editor : Editor Content