Seluruh aktivitas kegempaan, lanjutnya, terdeteksi di seismogram milik BMKG. Besaran energi beragam, baik yang dibawah atau lebih besar dari 5 Magnitudo. Terdeteksi di selatan Pulau Jawa, barat Pulau Sumatera, selatan Selat Sunda, serta wilayah Indonesia timur, khususnya Laut Banda.
"Jadi memang kami mendeteksi adanya peningkatan frekuensi kegempaan di wilayah Indonesia. Jumlah rata-ratanya meningkat dari tahun-tahun sebelumnya," jelasnya usai peresmian pemasangan jaringan Seismogram di Candi Abang, Jogotirto, Berbah, Sleman, Sabtu (18/12).
Mantan Rektor UGM Jogjakarta ini tak menampik, potensi bahaya cukup tinggi. Terlebih Indonesia memang terletak di daerah sesar lempeng. Selain gempa tektonik juga masih ada ancaman gempa vulkanik.
Munculnya gempa tektonik di dasar laut menambah potensi ancaman. Berupa munculmnya gelombang tsunami pasca gempa. Terlebih jika gempa memiliki kekuatan diatas 5 Magnitudo. Dikuatkan pula dengan durasi dan kedalaman episentrum gempa.
“Potensi gempa besar dan tsunami itu selalu ada. Sehingga memang perlu alat deteksi dini yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia,” katanya.
Jaringan seismogram di Candi Abang menurutnya adalah solusi. Titik ini nantinya akan mendeteksi potensi gempa tektonik yang muncul di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Sehingga dapat memberikan informasi dan peringatan dini secara cepat.
Peresmian seismogram baru, lanjutnya, menandai dimulainya instalasi 17 seismogram di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga harapannya dapat memberikan informasi secara cepat. Untuk kemudian diteruskan ke masyarakat sebagai sistem peringatan dan informasi.
“Paling utama itu kecepatan dalam memberikan informasi kalau ada gempa besar. Bersamaan peringatan dini tsunami jika terjadi di laut. Baru setelahnya keakuratan data. Untuk itu jumlah sensor gempa ditambahkan, dirapatkan jaringannya,” katanya.
Pemilihan lokasi Candi Abang juga memiliki alasan yang kuat. Bukit ini memiliki unsur batuan yang sangat solid. Sehingga sangat mendukung alat pendeteksi gempa. Tidak sensitif terhadap gerakan jika berada di tanah yang lembek dan labil.
“Awalnya itu memang di kawasan Candi Prambanan tapi disana itu rawan getaran, karena aktivitasnya sudah ramai. Disini (Candi Abang) selain sepi aktivitas juga karakter tanahnya sangat solid,” ujarnya.
BMKG akan terus menambah jumlah seismogram di setiap wilayah. Terutama wilayah titik buta yang tidak terpantau alat pendeteksi gempa. Tujuannya agar data yang didapatkan semakin cepat dan akurat.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengakui jumlah seismogram di Indonesia belumlah ideal. Tercatat saat ini baru ada 511 titik shelter dan jaringan seismogram. Angka ini masih dianggap kurang untuk mendeteksi gempa.
“Berdasarkan hasil dengan para ahli dari ITB dan UGM, sekurang-kurangnya butuh 600 jaringan seismogram di seluruh Indonesia,” katanya.
Pihaknya masih terus mencari titik buta di seluruh kawasan Indonesia. Sebelum di Jogjakarta, ada pemasangan instalasi jaringan seismogram di Pulau Komodo Nusa Tenggara Timur. Titik tersebut menjadi solusi untuk membaca gempa di kawasan NTT.
"Memang butuh waktu untuk proses pembangunan. Harus survei dulu lalu cari lokasi, baru setelahnya bangun shelter dan diisi peralatan. Jadi memang bertahap,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News