Berdasarkan struktur, Azzah menduga stupa candi bercorakan Budha. Hanya saja pihaknya masih melakukan penelitian lebih lanjut. Terutama untuk menemukan struktur bebatuan yang lebih lengkap.
"Masih dugaan awal sebagai stupa Budha. Keliatannya kan masih ada komponen-komponen stupa yang mungkin memang ini perlu penelitian lebih lanjut tapi dugaan awal itu stupa begitu," jelasnya, Kamis (2/9).
Berdasarkan penelitian sementara, Azzah menduga struktur batuan berasal dari abad ke IX. Mengacu pada masifnya pembangunan candi dan stupa pada kala itu. Terbukti dengan adanya ciri bangunan serupa di sekitar kawasan Kapanewon Prambanan.
"Kalau perkiraan tahun kami melihat sebaran yang ada di Prambanan yang punya bangunan-bangunan senada itu ya kira-kira abad IX lah," katanya.
Beragam temuan serupa juga tengah ditelitinya oleh BPCB Jogjakarta. Seperti corak stupa hingga struktur batuan. Letaknya ada yang berada di kaki bukit hingga kawasan perbukitan.
"Misalnya ada stupa atau dayagiri lalu sumberwatu, lalu ada stupa yang saat ini sedang kami lakukan studi-studi yang nantinya akan kita coba untuk rekonstruksi. Dulu ada stupa dawangsari," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh pegiat cagar budaya Hari Wahyudi. Berupa stupa candi yang dibangun era kerajaan Mataram kuno. Dugaannya pada abad VIII hingga X.
Hari memaparkan jenis temuan kali ini adalah stupa tunggal. Bahan baku menggunakan batu kapur berwarna putih. Diambil dari bebatuan di sekitar perbukitan Prambanan.
"Batu putih karena menggunakan bahan yg sesuai kondisi lokasi tempat. Kalau karakteristik jelas ini candi Budha dengan tipe stupa tunggal," kata Hari Wahyudi.
Terkait fungsi, Hari menduga sebagai patok simbol kekuasaan era Mataram Kuno. Dugaan lain adalah sebagai bangunan pendarmaan di puncak bukit. Tepatnya bagi seseorang yang meninggal dunia.
Struktur batuan utama memiliki diameter 7 meter. Tinggi bangunan stupa juga berukuran 7 meter. Sayangnya formasi stupa candi sudah rusak dan tidak utuh.
"Jadi kemungkinan dulu ini runtuh, terus sebagian materialnya itu digunakan sebagai pembatas talud. Saya tadi juga melihat ke arah bawah ada beberapa batu yang kotak itu yang asli dari sini sampai jauh ke bawah sana," ujar pegiat cagar budaya Hari Wahyudi.
Berdasarkan data ini, Hari meyakini stupa candi ini merupakan situs Budha tertinggi di Jogjakarta. Tercatat letaknya berada di 414 meter dari permukaan laut (MDPL). Sebelumnya ada Candi Ijo dengan ketinggian 397 MDPL.
Pemilihan lokasi perbukitan memiliki alasan yang kuat. Terutama legitimasi atas batas wilayah atau kekuasaan. Hari menduga sosok pendiri stupa candi bagian dari keluarga kerajaan.
"Kalau dugaan bersamaan dengan candi Prambanan, tidak bisa dibandingkan karena tidak ada prasasti yang mendukung ke arah situ. Apalagi ini minim motif dan reliefnya hampir tidak ditemukan. Jadi susah memprediksi jenisnya," kata Hari Wahyudi. (sky) Editor : Editor News