Lokasinya yang berada di puncak bukit menyimpan misteri tersendiri. Wajar banyak warga dari luar dusun yang kerap mencari berkah.
Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok menjelaskan cerita ini telah diwariskan sejak jaman kakek neneknya. Begawan Ciptoning mencari ketentraman dengan bertapa di puncak bukit. Sosok Begawan Ciptoning juga dikenal dengan nama Begawan Mintorogo dan Arjuna.
"Waktu itu beliau menginginkan wahyu katentreman atau mungkin wahyu sejatiah. Karena mungkin pada waktu itu di sini atau di bawah sana mungkin ada suatu kejadian hebat entah perang atau apa," jelasnya Prawoto Brewok ditemui di Bukit Mintorogo, Kamis (2/9).
Seiring waktu berjalan, banyak warga yang bertapa di bukit tersebut. Kebanyakan adalah warga dari luar Dusun Gayam. Waktu yang kerap dikunjungi malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.
Kepada Brewok, para pengunjung menyampaikan beragam keinginan. Mulai dari hidup tenteram hingga kenaikan pangkat jabatan. Sebagai penjaga, ia hanya bisa mengantarkan menuju lokasi bebatuan.
"Tapi kebanyakan pingin hidup tenteram. Karena mungkin keluarga ya agak gimana jadi pingin bahagia," kata Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok.
Seiring waktu berjalan, banyak warga yang bertapa di bukit tersebut. Kebanyakan adalah warga dari luar Dusun Gayam. Waktu yang kerap dikunjungi malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.
Kepada Prawoto, para pengunjung menyampaikan beragam keinginan. Mulai dari hidup tenteram hingga kenaikan pangkat jabatan. Sebagai penjaga, Prawoto hanya bisa mengantarkan menuju lokasi bebatuan.
"Tapi kebanyakan pingin hidup tenteram. Karena mungkin keluarga ya agak gimana jadi pingin bahagia," kata Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok.
Sebagai pengelola, Brewok selalu menjaga lokasi formasi bebatuan. Maklum saja kondisinya sudah berbeda dari jaman dulu. Tidak sedikit batu yang hilang dan berpindah tempat.
"Tetap lewat pengelola kalau tidak diusir, karena ada pengunjung yang merusak. Bisa lihat sendiri batu-batunya sudah agak berserakan," ujar Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok.
Beragam kejadian mistis pernah terjadi. Seperti tidak hujan saat ada orang yang bertapa. Padahal saat itu sedang masuk musim penghujan.
Beberapa warga juga sempat melihat sejumlah penampakan. Mulai dari orangtua berbaju putih, perempuan berkemben putih dengan tusuk konde warna emas. Adapula penampakan harimau putih.
"Kalau ada yang bertapa 30 sampai 40 hari, pasti di sekitar sini enggak dapat hujan. Padahal sedang musim penghujan. Ada harimau putih, jelas jadi-jadian," kisahnya.
Seorang pendeta Budha Marsudi Kusuma turun mendoakan tempat tersebut. Dia menduga dulunya struktur bebatuan sebagai tempat pertapaan. Terlihat dari lokasinya yang sunyi dan jauh dari pemukiman.
Ujian sebagai pendeta Budha, lanjutnya, berlangsung dalam berbagai tahapan. Salah satunya berdiam diri di tempat yang sunyi. Jauh dari hingar bingar masyarakat.
"Dilepaskan di hutan tidak dikasih makan, harus hidup. Persis dilaksanakan di sini banyak pertapa," ujar Marsudi Kusuma.
Tentang cerita mistis, Marsudi tak menampik. Dia menganggap bahwa alam sangatlah luas. Termasuk oleh makhluk yang tak terlihat.
"Ini ada yang menjaga, putri pakai kemben putih tusuk konde emas. Dan ini tempat yang luar biasa. Jangan coba-coba," kata pendeta Budha Marsudi Kusuma. (dwi/sky) Editor : Editor News