Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Es Bukan Akibat Badai Siklon

Editor News • Sabtu, 10 April 2021 | 04:50 WIB
LANDA: Hujan es masih bisa terjadi sampai akhir bulan April ini masih bisa berpotensi hujan es. (Dokumentasi BPBD)
LANDA: Hujan es masih bisa terjadi sampai akhir bulan April ini masih bisa berpotensi hujan es. (Dokumentasi BPBD)
RADAR JOGJA – Fenomena hujan es kembali terjadi di kawasan lereng Merapi, Jumat (9/4). Hujan es tersebut hanya berlangsung sekitar lima menit saja. Diawali dengan hujan deras disertai angin. Beberapa waktu kemudian menyusul hujan dengan butiran es kecil. Terjadi pukul 15.15 WIB.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengingatkan potensi hujan es masih bisa terjadi kedepannya.

"Sampai akhir bulan April ini masih bisa berpotensi hujan es. Terjadi karena adanya pengangkatan massa udara yang hangat, lembab dan labil ke atmosfer. Ditambah pemanasan sinar matahari yang intensif dari pagi sampai siang hari menyebabkan terbentuknya awan convektif yaitu awan Cumulonimbus (Cb)," jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (9/4).

Kemunculan awan cumulonimbus, lanjutnya,  dapat menjadi penanda awal. Pada tahapan selanjutnya adalah terjadi kondensasi pada udara yang labil. Hingga akhirnya terbentuk titik-titik air yang mencapai titik beku.

Penyebab munculnya titik beku adalah kuatnya energi dorongan di udara. Sehingga saat proses konveksi titik-titik air tetap dalam bentuk kristal es. Suhu yang rendah membuat kristal es bertahan hingga menyentuh tanah.

"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air,  terjadi hujan lebat disertai es.  Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," katanya.

Dalam kesempatan ini Reni meluruskan informasi yang beredar di masyarakat. Bahwa penyebab hujan es adalah keberadaan badai siklon di selatan pulau Jawa. Dia memastikan tak ada kaitannya antara kedua fenomena alam ini.

Badai siklon tropis Seroja, lanjutnya, sudah bergerak menjauhi Indonesia. Tepatnya menuju arah barat daya. Walau begitu tetap memberikan dampak. Berupa potenai hujan intensitas sedang di wilayah Jawa bagian tengah dan timur.

Tak hanya Seroja, saat ini juga muncul badai siklon Oddete di kawasan Samudera Hindia. Dampak signifikan berupa munculnya gelombang laut setinggi 3 hingga 4 meter di wilayah perairan. Kondisi ini berlangsung hingga 5 hari kedepan.

"Memang membuat intensitas hujan bertambah tapi penyebab hujan es itu bukan karena badai siklon," ujarnya.

Komandan Sar Linmas Kaliurang Kiswanta membenarkan munculnya hujan es di wilayahnya. Tidak ada laporan kerusakan selama hujan es berlangsung. Termasuk korban jiwa akibat kemunculan fenomena alam ini

"Iya, sempat terjadi fenomena hujan es di Kaliurang. Sekitar jam 15.15 WIB, enggak lama cuma sekitar 5 menitan. Info yang saya dapat juga terjadi di Dusun Tritis dan Turgo," katanya.(dwi/sky) Editor : Editor News
#Fenomena hujan es #BMKG