“Selalu pakai masker, sering cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak. Patuhi dan laksanakan tiga hal itu,” pinta Sukamto saat kegiatan kunjungan daerah pemilihan (Kudapil) III pembagian alat semprot disinfektan beserta obatnya di kediamannya Dusun Purwosari, Sinduadi, Mlati, Sleman, kemarin (10/4).
Sukamto kembali mengulang ketiga hal itu penting disadari oleh masyarakat. Menghadapi pandemi Covid-19 butuh sikap disiplin dari seluruh warga bangsa. Dengan menjaga kedisplinan memakai masker, sering cuci tangan dengan saban dan jaga jarak, maka dapat memutus penyebaran virus korona.
Terkait alat semprot disinfektan dibagikan ke seluruh kabupaten dan kota se-DIJ. Untuk tahap awal ini jumlahnya ada sebanyak 25 buah. Setelah ini, dilanjutkan tahap berikutnya. Jumlahnya ada 50 buah. “Tujuan dibagikannya alat semprot ini dalam rangka membantu masyarakat mengadakan penyemprotan di lingkungannya,” ujar anggota Fraksi PKB DPR RI ini.
Acara tersebut juga dihadiri Bupati Sleman Sri Purnomo dan Kabid Pencegahan dan Kesiapsigaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Lilik Andi Aryanto. Dalam sambutannya, Sri Purnomo mengapesiasi kegiatan yang diinisiasi Sukamto tersebut. Menurut dia, melawan virus korona harus melibatkan banyak elemen. Mulai pemerintah, legislatif, swasta dan masyarakat.
“Semua harus bersatu melawan virus korona. Penyebaran Covid-19 itu dapat kita putus dengan disiplin memakai masker, sering cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak. Hindari kerumunan,” tegasnya.
Bupati dua periode itu secara khusus menyoroti titik rawan penyebaran virus korona. Di antaranya saat masyarakat berkumpul di posko-posko yang lebih dari 10 orang. Mereka berkumpul dan begadang hingga larut malam. Jaga jarak menjadi terabaikan. Ditambah tidak menggunakan masker.
“Jaga poskonya kumpul-kumpul sambil main gaple. Main gaple nggak mungkin jaga jarak karena pasti duduknya saling berdekatan. Ini justru bisa menjadi titik rawan,” ingatnya.
Sri Purnomo meminta bila masyarakat hendak mengaktifkan posko untuk menjaga lingkungannya tidak perlu melibatkan banyak orang. Berkumpul lebih dari 10 orang berarti berpotensi mengundang kerumunan. “Ini harus dihindari,” ungkapnya mewanti-wanti.
Karena itu, suami Kustini ini meminta masyarakat konsisten menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan demi mengurangi risiko penularan. Diakui, jumlah orang dalam pemantauan (OPD) di Sleman terbanyak se-DIY. Begitu pula dengan pasien dalam pemantauan (PDP) yang terkorfirmasi dan meninggal juga tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota se-DIY. “Itu karena mobilitas tertinggi berada di Sleman,” bebernya.
Dia memberikan ilustrasi, aktivitas pesawat di Bandara Adisutjipto dengan rute Jakarta-Jogja PP lebih dari 20 penerbangan setiap harinya. Hal itu berpengaruh terhadap tingginya kasus ODP dan PDP di wilayahnya.
Sri Purnomo mengapresiasi dengan telah dimulainya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta mulai kemarin hingga 14 hari ke depan. Harapannya penerapan PSBB diperluas di sekitar Jakarta atau Jabodetabek. Penetapan PSBB diyakini dapat meminimalisasi pergerakan orang keluar Jabodetabek sehingga akan menurunkan tingkat penyebaran Covid-19. (kus) Editor : Editor Content