Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Staklim Jogja Etik Setyaningrum mengatakan potensi hujan es didominasi pada daerah yang memiliki guyuran air hujan tinggi. Khususnya di daerah dataran tinggi.
Penyebab munculnya hujan es, kata Etik, karena aktivitas awan cumulonimbus (CB) atau awan rendah yang pertumbuhannya vertikal menjulang ke atas. Berbentuk gumpalan menyerupai bunga kol dan menyerupai huruf T.
Awan yang terbentuk, akan memiliki puncak yang sangat tinggi sehingga suhu bagian atas awan menjadi rendah. "Suhu akan minus, akibatnya bentuk partikel di atasnya adalah kristal es," jelas Etik (30/12).
Etik menambahkan, kristal es yang berada di bagian atas bisa turun ke bumi dalam bentuk es. Penyebab jatuhnya es dari awan, bisa dikarenakan turbulensi atau pergolakan angin kuat. Atau disebabkan terpentalnya kristal es ke bawah saat adanya petir yang menyambar.
Menurut Etik, adanya awan CB yang bisa membawa kristal es cenderung terbentuk pada siang dan sore hari. Salain dampak hujan es yang ditimbulkan, awan CB juga bisa mengakibatkan hujan lebat disertai petir. ‘’Serta angin kencang termasuk puting beliung,’’ tambah Etik.
Meskipun durasi hidupnya bersifat lokal dan pendek, berkisar antara satu hingga dua jam, dampak yang ditimbulkan bisa cukup besar. Oleh karena itu, masyarakat diimbau mewaspadai wilayahnya jika muncul awan CB.
Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan, sebelumnya telah ada tiga kecamatan di Sleman, yaitu Prambanan, Gamping, dan Berbah yang diguyur hujan lebat dan angin kencang.
‘’Bahkan, di dusun Blendangan, Tegaltirto, Berbah, sempat terjadi hujan es, namun nihil dampak kerusakan," jelas Makwan. (eno/iwa/rg) Editor : Editor Content