Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada Sebaran Virus Hepatitis A

Editor News • Jumat, 28 Juni 2019 | 17:23 WIB
SLEMAN - Dinas Kesehatan Sleman mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk meminimalisasi sebaran virus hepatitis A (HAV). Kasus HAV (penyakit kuning) tengah menjadi kejadian luar biasa (KLB) di Pacitan, Jawa Timur.

Virus hepatitis A disebarkan secara fecal-oral. Yaitu perpindahan virus dari makanan atau media yang terkontaminasi virus penderita hepatitis A, ke mulut orang yang sehat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sleman, Novita Krisnaeni menjelaskan, belum ditemukan sebaran HAV di Sleman. Namun, tidak menutup kemungkinan sebar HAV bisa saja terjadi dari pendatang.

Apalagi dalam waktu dekat, kata Novita, akan ada mahasiswa baru yang masuk ke Jogjakarta untuk kuliah. Selain itu, secara geografis Pacitan dekat dengan Gunungkidul, memungkinkan sebaran HAV terjadi. “Dan Sleman dekat dengan Gunungkidul,” jelas Novita (27/6).

Novita mengatakan, virus yang menimbulkan peradangan pada hati tersebut bisa dicegah. Meskipun bisa sembuh total dalam waktu lebih dari dua minggu, penderita harus segera mendapatkan penanganan.

Sedangkan untuk individu yang masih sehat, diimbau tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah terpapar penderita. Selalu menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan tidak buang air besar sembarangan (BABS), dan mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun usai BAB.

Masyarakat harus memerhatikan makanan yang dikonsumsi. Apalagi makanan yang dibeli dari penjual di pinggir jalan. Dimana tempat makan yang digunakan, biasanya dicuci dalam tempat dengan air yang tidak mengalir.

Menurut Novita, persebaran hepatitis A di Sleman pernah terjadi pada 2018 di Turi dan Seyegan. Namun, bisa diatasi. Tidak terjadi penyebaran HAV lebih luas.

“Persebaran HAV bisa terjadi melalui tempat makan yang bergantian, mencuci alat makan bersamaan. Dimana tidak ada yang tahu alat makan mana yang sudah terkontaminasi HAV,” kata Novita.

Kepala Bagian Hukum dan Humas, RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan mengaku, belum ada tambahan pasien dengan HAV. Dari Januari sampai Juni, ada 19 pasien HAV akut yang terdaftar di RSUP Dr Sardjito. Dengan jumlah pasien tertinggi pada Maret. Berjumlah enam pasien HAV.

“Kebanyakan (penderita dengan) hepatitis yang sudah kronis. Dan bukan penderita baru,” ungkap Banu. (cr7/iwa/fj) Editor : Editor News
#HAV #p2p