Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ajak Warga Adopsi Anggrek Merapi

Editor News • Kamis, 23 Februari 2017 | 18:07 WIB
MEMESONA: Warga Wonokromo mengajak masyarakat untuk mengadopsi anggrek di kawasan lereng Gunung Merapi.(DWI AGUS/RADAR JOGJA)
MEMESONA: Warga Wonokromo mengajak masyarakat untuk mengadopsi anggrek di kawasan lereng Gunung Merapi.(DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SLEMAN - Potensi hayati di kawasan lereng Gunung Merapi sangatlah beragam. Sebagai kawasan penyangga, ekosistemnya harus dijaga dan dilestarikan. Termasuk di dalamnya adalah spesies anggrek Merapi.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIJ Sutarto berharap warga peka terhadap potensi hayati di kawasannya. Selama ini, kerusakan alam terjadi karena ulah nakal manusia. Mulai dari penambangan liar hingga pemanfaatan potensi alam yang tidak terarah.

"Selama ini pola pikirnya masih berorientasi pada jangka pendek. Terutama pada sektor perekonomian. Padahal harus bijak, jika rusak maka perbaikan butuh proses lama," tegasnya dalam acara Sarasehan Desa Penyangga di Fakultas Kehutanan UGM, kemarin (22/2).

Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIJ mayoritas kerusakan akibat penambangan. Terutama di kawasan yang tergolong pekarangan warga. Padahal dari sisi regulasi, aksi ini jelas melanggar aturan pemerintah.

Untuk mengembalikan ekosistem alami perlu ada reklamasi. Hanya, upaya ini harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat.

"Jadi harus aktif, termasuk pemerintah desanya. Jika sudah terbentuk maka bisa dikemas dalam sebuah program. Seperti pengembangan potensi hayati," ujarnya.

Dalam kesempatan kemarin, dicanangkan gerakan adopsi anggrek. Terutama potensi bibit anggrek Desa Wonokromo, Turi. Konsep adopsi ini mengajak masyarakat menanam anggrek di kawasan lereng Gunung Merapi.

Kepala Desa Wonokromo Tomon Haryo Wirosobo berharap, gerakan ini dapat melestarikan potensi anggrek Merapi. "Habitat anggrek di Merapi memang masih terjaga. Tapi, dikhawatirkan eksploitasi akan mengganggu. Disinilah pentingnya keterlibatan warga," jelasnya

Tomon mengungkapkan, saat ini ada sekitar 95 jenis anggrek di sekitar Gunung Merapi. Beberapa spesies tergolong dalam spesies langka. Desa Wonokromo telah menjalankan program adopsi anggrek selama dua tahun. Adopter, lanjut Tomon, dapat membawa pulang bibitnya. Selanjutnya jika sudah dewasa dikembalikan ke Gunung Merapi.

"Saat ini warga Wonokromo sudah memiliki rumah budidaya mandiri. Ini juga menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat desa," ujarnya. (dwi/ila/mg2) Editor : Editor News
#spesies anggrek Merapi #melestarikan