Heri mengakui awalnya sebagian warga dusun Petung bergabung dengan paguyuban TLWC. Setelah mengetahui Pemkab Sleman melayangkan surat peringatan (SP) III, dirinya meminta warga untuk mandiri. Tidak terikat dengan pengelola kastil."Jadinya paguyuban The Lost World yang mengurusi Stonehenge, dan museum Sisa Hartaku. Sudah pisah dengan kepengurusan kastil," jelasnya kemarin (13/2).
Heri menegaskan mendukung keputusan dari Pemkab Sleman. Saat SP3 dikirim, Heri meminta pengelola untuk menutup aktivitas. Hanya saja kala itu pengelola sempat meminta kelonggaran waktu.
Dalam kesempatan ini dia menampik pemerintahnya tidak melapor. Pemerintah Desa Kepuharjo pernah melayangkan surat kepada Pemkab Sleman pada tahun 2012. Isi surat tersebut memberitahukan adanya pembangunan di kawasan Dusun Petung."Waktu itu masih dalam bentuk pondasi, belum sebesar ini. Sayangnya langkah yang diambil kurang tegas sehingga pembangunan tetap berlanjut," jelasnya.
Remon, salah seorang pengurus Stonehenge membenarkan adanya pembangunan sejak 2012. Berdirinya TLWC seakan menjadi pundi ekonomi di Dusun Petung. Ini karena perekonomian kawasan tersebut mati pasca Erupsi Merapi 2010.
Dia berharap SP3 tidak berdampak pada objek wisata di Petung. Stonehenge menurutnya menjadi penopang ekonomi warga Petung. Hingga saat ini, rata-rata kunjungan harian mencapai 200 hingga 300 pengunjung."Kalau Stonehenge sudah berdiri empat bulan ini. Hanya batu cor-coran yang ditumpuk. Konsepnya seperti Stonehenge di Inggris," jelasnya.
Kawasan ini dikelilingi oleh perkebunan kopi. Remon menjelaskan kopi menjadi potensi wisata di Petung. Bahkan sempat menjadi ciri khas Desa Wisata Petung. Meski sempat lumpuh paska erupsi, kebun kopi ini kembali aktif."Dulu sempat juara nasional untuk kebun kopi saat era Predisen Soeharto. Ditanam lagi 2013 setelah mendapat bantuan bibit arabica dari Dinas Pertanian dan LSM," ujarnya. (dwi/din/mg1) Editor : Editor News