Administrator• Kamis, 22 Desember 2016 | 19:21 WIB
PhotoRADARJOGJA.CO.ID - SLEMAN - Masuknya salak dari berbagai daerah ke Sleman mengancam eksistensi salak pondoh. Salak Magelang, Banjar hingga Lumajang membanjiri pasar salak Sleman.
Ketua Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Maryono tidak menyoal salak-salak tersebut masuk Sleman. Namun, tengkulak dan penjual justru menamai salak ini sebagai salak khas Sleman.
"Kebetulan masa panen di berbagai daerah bersamaan. Istilahnya titip jual di Sleman dan didistribusikan ke beberapa daerah. Sayangnya, salak-salak ini diklaim salak khas Sleman, padahal bukan," kata Maryono kemarin.
Klaim tersebut merugikan petani salak Sleman. Harga salak luar daerah lebih murah. Padahal tekstur dan rasa beda jauh dengan salak pondoh Sleman.
Jika tidak ditangani, dia khawatir citra salak pondoh luntur. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan mendatangi pengepul. Terutama pengepul salak yang mengambil salak dari Prima Sembada.
Maryono menjelaskan perbedaan fisik dan rasa salak. Salak pondoh, warna kulit cokelat terang. Rasanya manis akan bertahan meski disimpan lama. Beda dengan salak lain yang hambar.
"Kalau ingin berjualan, lebih baik bawa identitas asli. Jangan diklaim salak Banjar itu sebagai salak khas Sleman. Selisih harga hingga Rp 1.500 per kilogram dari tengkulak. Tapi dijual dengan harga sama ke konsumen," kata Maryono.
Prima Sembada membawahi 34 kelompok tani salak Sleman. Terdiri tiga kecamatan, Pakem, Turi dan Tempel. Jumlah panen tahun ini 4.000 ton dengan luas lahan 200 hektare.
Kepala Dispertanhut Sleman Widi Sutikno menyayangkan klaim tersebut. Dinasnya telah memiliki langkah khusus. Salak-salak pondoh yang ditanam di Sleman memiliki identitas Indikasi Geografis (IG).
Dia setuju agar para penjual dan tengkulak berbuat jujur. Mengimbau jika memang bukan salah pondoh jangan diklaim salak khas Sleman. Menjaga kualitas salak pondoh Sleman. (dwi/iwa/ong)