SLEMAN – Pemkab Sleman terus berkampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk dengan gerakan 3M (menimbun, menutup, dan menguras) plus pola hidup bersih dan sehat. Langkah itu sangat penting guna mencegah perluasan penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Saat ini, Dinas Kesehatan mencatat delapan wilayah kecamatan endemis DBD. Antara lain, Depok, Kalasan, Gamping, Berbah, Ngaglik, Mlati, Berbah dan Sleman.
"Melihat sebarannya, kami khawatir DBD merambah seluruh kecamatan," ungkap Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Novita Krisnaeni kemarin (6/3).
Novita memaparkan, hingga Maret, tercatat 156 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak tiga orang. Dari urutan waktu dan pola penyebarannya, tingkat kasus pada 2016 dipresdiksi bisa lebih tinggi dibanding tahun lalu dengan total 520 kasus dan sembilan korban meninggal dunia.
"Karena itu delapan kecamatan itu butuh prioritas penanganan," lanjutnya.
Novita menegaskan, selain faktor cuaca, tingginya kasus DBD dipicu oleh minimnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan PHBS dan ketidakpedulian pada kondisi lingkungan. Kondisi itu menyebabkan banyak genangan air sisa hujan menjadi sarana perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.
Sebenarnya, pemkab tak kurang-kurang dalam upaya menekan angka DBD. Membentuk kader jumantik di tiap desa, salah satunya. Bahkan, kali ini menyasar jumantik cilik, yang merupakan kalangan pelajar. Saat ini sudah terbentuk 45 kelompok yang beranggotakan 1.527 orang.
Ironisnya, upaya menekan angka DBD justru lebih sering dilakukan warga di wilayah non endemis. Misalnya, Cangkringan.
Di kawasan lereng Gunung Merapi, perkembangan nyamuk pembawa virus DBD tak begitu tinggi. Cenderung fluktuatif. Bahkan, selama 2015 tak ditemukan adanya kasus DBD. Tapi, warga setempat sangat antusias menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti. Salah satunya, membentuk Pasukan Bombastik (bocah Merapi pembasmi jentik). Karena itu, tak heran jika pemerintah setempat menargetkan nol penderita pada kasus DBD.
Pasukan Bombastik yang diresmikan Camat Cangkringan Edi Harmana beranggotakan siswa dari 20 sekolah dasar (SD) di Cangkringan. Setiap Jumat, mereka terlibat dalam kegiatan monitoring jentik di dusun-dusun binaan.
"Kelompok itu sekaligus sebagai sarana pembelajaran anak. Pengenalan daur hidup nyamuk dari telur sampai dewasa," papar Edi.(bhn/yog/ong)
Editor : Administrator