PAKEM - Pemerintah menerapkan metode baru dalam sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi bencana. Yakni dengan memutar film dokumenter "Mahaguru Merapi".Film tersebut tidak hanya mengingatkan bahaya erupsi, tetapi juga mendorong semua orang agar selalu siap dan waspada menghadapi bencana.Setelah pemutaran perdana film karya Ilman Hidayat di Museum Gunungapi Merapi (MGM) kemarin (3/9), Mahaguru bukan hanya memperkaya pustaka museum, tetapi juga menjadi sarana sosialisasi bagi siswa sekolah. Program itu gayung bersambut dengan rencana Pemkab Sleman menambah jumlah sekolah siaga bencana (SSB). Sekolah yang dalam kegiatan ekstra kurikuler dilengkapi sarana mitigasi bencana. "Bertahap, semua sekolah di lereng Merapi nantinya akan menjadi SSB. Ilmu mitigasi bencana harus ditanamkan sejak anak usia dini," ujar Bupati Sleman Sri Purnomo usai launching "Mahaguru Merapi" di MGM kemarin (3/9).
Selama dua tahun terakhir, Sleman telah membentuk lima SSB. Antara lain, SMK Muhammadiyah Cangkringan, SMK Nasional Berbah, SMP Negeri 2 Cangkringan, SD Kepuharjo, dan SD Umbulharjo 2. Satu sekolah lagi masih berstatus rintisan SSB, yakni SMK Muhammadiyah Pakem.Selain belajar mitigasi, siswa di SSB dibekali informasi tentang titik kumpul dan jalur-jalur evakuasi. Tujuannya untuk menghindarkan sikap panik. Keberadaan SSB dinilai cukup membantu dalam membentuk mental para siswa yang sehari-hari harus siap menghadapi bencana. "Siswa jadi lebih tenang saat belajar. Bahkan saat ujian Mei lalu, status Merapi naik waspada, siswa tetap tenang," ungkap Kepala SD Kepuharjo Ramelan.
Selain SSB, Pemkab Sleman punya program sister school yang dikemas beriringan dengan sister village. Itu diartikan, jika suatu saat terjadi bencana yang mengharuskan semua warga mengungsi ke tempat aman (desa lain), di lokasi itu pengungsi yang berstatus pelajar tetap bisa sekolah. Bukan seperti saat erupsi Merapi 2010. Hampir semua siswa di lereng Merapi terpaksa diliburkan sampai berminggu-minggu. "Pekan depan kami canangkan sister school," kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Heru Saptono.Sister school mengandung konsep desa terdekat sebagai lokasi pengungsian sekaligus penampung siswa dari kawasan rawan bahaya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Sri Purnomo menerima master piece film "Mahaguru Merapi" dari Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM Dr Surono kemarin (3/9). Film tersebut diberi judul "Mahaguru Merapi" bukan tanpa alasan. Surono mengatakan, Merapi adalah mahaguru yang arif. Merapi juga tak pernah ingkar janji setiap mengelurkan tanda-tanda akan erupsi. " Hendaknya masyarakat mengetahui hal tersebut," pintanya.Hal penting yang tidak boleh dilupakan, lanjut Surono, Merapi punya hak untuk meletus kapan saja. Masyarakat tidak bisa menolak kejadian itu. "Tidak ada yang bisa memusuhi Merapi. Tetapi bisa dijadikan sahabat," ungkap mantan kepala pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVMBG) ini.
Surono mengimbau masyarakat harus bisa menyiasati kondisi Merapi. "Alam adalah guru kita. Jangan memaksakan kehendak pada alam karena itu sama saja menyemai bibit bencana," lanjut doktor berambut putih itu.Kepala PVMBG Ir M Hendrasto mengatakan, film tersebut dibuat oleh lembaganya sebagai sarana sosialisasi tentang kebencanaan gunung api pada umumnya. "Gunung Merapi khususnya, sebagai salah satu wujud daari upaya mitigasi bencana gunung api," katanya.Dari film itu, masyarakat diharapkan bisa belajar tentang kharakteristik Gunung Merapi, sekaligus upaya mitigasi yang lebih efektif dimasa mendatang. Ini agar bisa meminimalisasi kerugian akibat bencana yang ditimbulkan dan tentu jangan sampai ada korban akibat letusan.(yog/din) Editor : Editor News