Klonthong.Peranti yang mampu mengeluarkan bunyi dan biasa dipasang pada leher sapi piaraan itu resmi menjadi maskot pada BE 2014. Tapi, konthong itu sangat istimewa.Ukurannya besar. Bahkan, saking besarnya, maskot BE 2014 tersebut akan didaftarkan untuk mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) sebagai klonthong terbesar.Hanya, untuk mewujudkan klonthong terbesar itu panitia BE 2014 dibuat khawatir. Sebab, proses pembuatan maskot itu ternyata tak mudah. "Ini sudah dua kali gagal," ucap Suatmaji, perajin logam yang didapuk panitia BE 2014 untuk membuat klonthong raksasa saat ditemui di rumahnya yang terletak di Perumahan Industri Kecil Gunungsempu, Kasihan, Bantul kemarin (30/6).Untuk membuat klonthong raksasa dengan bahan dasar kuningan, kata dia, bukan perkara mudah. Jika klonthong terlalu tebal dipastikan tak akan bersuara nyaring.
Tetapi di sisi lain, jika ingin klonthong berukuran tipis dibutuhkan cetakan yang harus benar-benar kuat. "Tanah yang jadi cetakannya rontok, nggak kuat nahan panas dan berat berlebih," ucap Suat. Dia sudah beberapa kali mencoba. Tapi, belum ada yang berhasil.Suat berencana memanfaatkan pasir silika dan waterglass sebagai cetakan klonthong raksasa tersebut. Dengan dibantu sepuluh karyawan, dia akan terus mencoba membuat klonthong raksasa dengan bahan dasar kuningan dengan berat sekitar dua kuintal.Dia bertekad terus mencoba hingga berhasil. "Supaya nanti bisa dipajang saat Bantul Ekspo," harapnya.Bagi Suat, dunia kerajinan logam bukan hal baru. Dia sudah berkiprah di dunia ini sejak 1983. Pahit dan manis perjalanan sebagai perajin logam sudah dia rasakan.
"Saat masa keemasan bisnis kerajinan logam dahulu omzetnya bisa mencapai miliaran rupiah," kenangnya.Tak hanya itu. Kiprah suami dariEndang Sri Hartini sejak 1983 itu ternyata telah mampu mengantarkan puluhan karyawannya menjadi juragan kerajinan logam baru. Mereka kini tersebar di berbagai wilayah di Jogjakarta. Di antaranya, Kotagede dan Pleret.Keinginannya berbagi pengetahuan soal kerajinan logam kepada bekas karyawannya tak lepas dari masa lalu dan lingkungannya. "Terus terang saya pernah nakal dengan menjadi preman. Saya tak ingin mereka seperti itu," ujarnya dengan nada lirih.Di samping itu, Suat bukan lulusan jurusan seni rupa. Dia hanya pedotan salah satu SMA di Jogja. Meski demikian, dia pernah menjadi dosen tamu di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Jogjakarta.
"Tahun 2004-2006 sempat mengajar di ISI," tandasnya.Kesibukannya sebagai pengajar tersebut akhirnya terhenti karena kaki kanannya diamputasi. Itu terjadi setelah dia divonis dokter menderita diabetes. Meski begitu, Suat tak patah semangat. Selain masih memproduksi berbagai kerajinan logam, dia rutin berkomunikasi dan berbagi rezeki dengan puluhan karyawannya. "Kalau saya dapat order, saya lempar kepada mereka. Sekarang fokus saya pada finishing produk," tambahnya. (*/amd) Editor : Editor News