Ki Gondo mengungkapkan, pementasan rutin ini sebagai wujud nguri-uri kesenian pewayangan yang ada di Jogjakarta.
"Pementasan ini juga untuk meregenerasi penonton yang hadir untuk penonton. Selain dari sisi dalang dan pengrawit yang muda-muda, kami juga ingin menarik penonton muda. Tidak hanya domestik, wisatawan atau pelajar mancanegara juga. Seperti yang terlihat saat ini," ungkap Ki Gondo, di sela kegiataan.
Dengan pentas rutin itu, diakui Ki Gondo bisa menjadi hawa segar iklim pewayangan di Jogjakarta. Belum lagi kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memasukkan wayang ke dalam kurikulum 2013. Kebijakan ini menjadi tonggak baru dunia kesenian dan kebudayaan di Indonesia.
Ki Gondo memaparkan, kebijakan ini penting diterapkan, karena wayang memiliki nilai lebih tidak hanya sekadar warisan budaya. Wayang kulit khususnya bisa menjadi pendidikan karakter dengan menampilkan nilai-nilai budi pekerti dan tata karma.
Selain itu, wayang pun sarat pesan unggah-ungguh, kesopanan, norma, dan mengajarkan manusia memiliki rasa malu.
Meski dikemas tradisi dan tak mengedepankan kemajuan teknologi, menurut Ki Gondo wayang memiliki nilai tontonan, tuntunan, dann tatanan yang besar.
"Tidak hanya sekadar menjadi hiburan, namun memiliki nilai penting. Seperti sifat tokoh pewayangan dan juga lakon yang bisa menjadi khasanah kehidupan," pesan Ki Gondo.
Pembukaan diawali penampilan dalang muda Ki Eko Suwondo dengan lakon Dasamuka Kalajaya. Lakon ini menceritakan awal kisah Ramayana, namun fokus pada fragmen tentang Dasamuka.
Ia menambahkan, pergelaran wayang kulit oleh paguyuban Sukra Kasih digelar setiap Jumat, Minggu terakhir. Ki Gondo menuturkan, pergelarannya digelar semalam suntuk, hingga pukul 04.00 pagi hari.
"Mengembalikan nilai dari pewayangan sendiri yang pentas semalam suntuk. Selain ceritanya yang disajikan utuh, acaranya juga dikemas berbeda dengan adanya doorprize bagi penonton yang datang," katanya.
Selain lakon Dasamuka Kalajaya, ada juga lakon Aji Pancasona, Ramawijaya Lahir, Sinta Ilang, Senggana Duta, Rama tambak, Prahastha Gugur, Kumbakarna Gugur, Dasamuka Gugur, dan diakhiri lakon Tambak Undur. Semua lakon ini, lanjut Ki Gondo, akan dibawakan dalang-dalang muda dari Paguyuban Sukra Kasih.
Soal Paguyuban Sukra Kasih, Ki Gondo mengungkapkan, terbilang muda dan berdiri pada 11 Maret 2011. Meski muda, namun dalam melestarikan dan mementaskan kesenian wayang, paguyuban ini cukup konsisten. Salah satunya pentas rutin tiga bulan sekali di Tembi Rumah Budaya.
"Selain itu anggotanya terdiri dari civitas pelajar dan mahasiswa jurusan seni di Jogjakarta. Selain dalang, dalam paguyuban ini juga mewadahi karawitan dan sinden muda," katanya.(dwi/hes) Editor : Editor News