Maraknya media sosial dan podcast menjadi tantangan bagi keberadaan radio komunitas. Namun, Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM) tetap membawa identitasnya sebagai media berbasis kebudayaan sekaligus ruang untuk mempertemukan masyarakat.
Identitas berbasis budaya menjadi salah satu keunikan Radio BBM dibandingkan radio komersial. Aktivitas Radio BBM tidak hanya berkaitan dengan siaran, tetapi juga terhubung dengan berbagai kegiatan seni dan budaya di Balai Budaya Minomartani.
Salah satunya melalui Mawayang, kegiatan yang mempertemukan berbagai jenis wayang dari seluruh Indonesia untuk dipentaskan di Balai Budaya Minomartani.
Baca Juga: Usai Lima Tahun, Stece Kembali Juara Honda DBL with Kopi Good Day 2026 D. I. Yogyakarta
“Setiap tahun kita mengadakan Mawayang. Itu mempertemukan jenis wayang di seluruh Indonesia dipentaskan di Balai Budaya," ujar Sekretaris Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani, Susilo Harsho saat ditemui Kamis (8/10).
Radio BBM, kata dia, memiliki misi mempertemukan warga tanpa membedakan latar belakang. Misinya mempertemukan semua warga, tidak mengenal etnis dan sebagainya. “Sehingga kita membangun kesatuan, memperkaya budaya serta melestarikan budaya yang ada di Jogja,” kata Susilo.
Selain wayang, Balai Budaya Minomartani juga menjadi ruang pertunjukan Paradense, yang disebut Susilo sebagai tari kontemporer dan kreatif dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, seniman dari Amerika pernah datang untuk tampil dalam kegiatan tersebut.
Baca Juga: Alarm Darurat PSIM Jogja usai Dibantai Persija Jakarta 0-4 di Stadion Sultan Agung Bantul
Keberadaan Radio BBM juga mendapat dukungan masyarakat. Susilo mengatakan, antusiasme warga terlihat dalam sejumlah pentas dan temu warga. Dukungan diberikan melalui partisipasi sumber daya manusia maupun dana yang dilakukan secara bersama-sama.
“Partisipasi masyarakat baik dari sumber daya manusia maupun dana disengkuyung atau dipikul bersama-sama," jelasnya.
Di tengah perkembangan media sosial dan podcast, Susilo mengakui Radio BBM menghadapi tantangan untuk tetap hadir, terutama dalam menjangkau generasi muda.
Baca Juga: Bosan ke Mall Terus? Coba 3 Spot Wisata Syahdu di Bantul Ini
Meski begitu, Radio BBM tetap berpegang pada misi mempertemukan warga, khususnya di Minomartani, Sleman, hingga masyarakat Indonesia.
Ke depan, Susilo berharap Radio BBM dapat terus menjalankan perannya dalam menjaga kebudayaan. Radio komunitas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi media komunikasi warga, tetapi juga turut menghadapi masuknya pengaruh budaya dari luar.
"Tetap dengan visi-misinya, melestarikan budaya dan menjadi benteng dari pengaruh budaya luar yang masuk ke Indonesia," tandasnya.
Abel Lia Nababan
Editor : Heru Pratomo