YOGYAKARTA – Cerita tentang makhluk gaib tidak selalu berujung pada kisah menyeramkan. Drama musikal “Republik Dhemit” justru membawa penonton pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yakni keserakahan dalam mengeksploitasi alam dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.
Pertunjukan tersebut dipentaskan pada Sabtu (6/12/2025) di Auditorium Driyarkara, Kampus II Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Pementasan menjadi bagian dari Gelar Sastra Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) 2025 sekaligus ujian Mata Kuliah Pagelaran Sastra dan rangkaian Dies Natalis ke-62 PBSI.
Drama musikal ini melibatkan mahasiswa PBSI angkatan 2023 bersama UKM Teater Seriboe Djendela (TSD) USD. Ceritanya diadaptasi dari lakon “Dhemit” karya Heru Kesawa Murti, kemudian dikembangkan dalam format musikal dengan perpaduan akting dan musik.
Kisah Republik Dhemit berangkat dari kehidupan para dhemit, makhluk gaib yang digambarkan sebagai penghuni sekaligus penjaga alam. Konflik muncul ketika ambisi Tuan Rajegwesi untuk membuka dan menguasai suatu wilayah membuatnya mengabaikan keberadaan serta peringatan dari para penghuni alam tersebut.
Baca Juga: Marcos Reina Tertantang Hentikan Laju Positif Arema saat Persik Kediri Melawat ke Kanjuruhan
Dari konflik itu, pertunjukan membawa penonton pada persoalan yang lebih luas. Keinginan manusia untuk menguasai dan mengeksploitasi lahan digambarkan berhadapan dengan upaya mempertahankan keseimbangan alam.
Keserakahan tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Berbagai tindakan yang mengabaikan keseimbangan alam juga akhirnya membawa konsekuensi bagi manusia sendiri.
Kritik terhadap Cara Manusia Memperlakukan Alam
Lewat karakter dan rangkaian konflik yang dimainkan, Republik Dhemit menyelipkan kritik terhadap cara manusia memandang alam.
Alam tidak ditempatkan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan tertentu. Ada keseimbangan yang harus dihormati dan dijaga agar kehidupan manusia maupun lingkungan tetap berjalan beriringan.
Meski menggunakan unsur mistis sebagai bagian penting cerita, pertunjukan ini tidak semata-mata menawarkan kisah tentang makhluk gaib. Di balik cerita tersebut terdapat pesan mengenai persoalan lingkungan yang masih relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Eksploitasi alam secara berlebihan dapat menimbulkan dampak panjang. Karena itu, manusia dituntut mempertimbangkan konsekuensi dari setiap tindakan sebelum menjadikan lingkungan sebagai objek untuk memenuhi kepentingannya.
Bagi mahasiswa PBSI, pementasan ini sekaligus menjadi ruang untuk menerjemahkan karya sastra ke dalam bentuk pertunjukan. Unsur sastra dipadukan dengan akting dan musik sehingga menghasilkan pengalaman panggung yang lebih dinamis bagi penonton.
Pada akhirnya, Republik Dhemit mengajak penonton merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam. Para dhemit dalam cerita menjadi simbol bahwa alam memiliki keseimbangan dan setiap tindakan manusia terhadap lingkungan selalu membawa konsekuensi.
Baca Juga: Satu Langit, Ribuan Cerita, Sleman Kite Festival 2026 Memadukan Layangan, Musik, dan Semangat Desa
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi penting: alam bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dirawat dan dijaga keseimbangannya.