Menyibak Makna Tombak Kyai Jala Sutra Mukti Lewat Film Dokumenter di Dalem Benawan Yogyakarta 

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 22:36 WIB
Dari kiri, Indra Tirtana, Stefani Michael, dan RM Kukuh Hertriasning atau Gusti Aning di sela screening film dokumenter “Kyai Jala Sutra Mukti” di Dalem Benawan, Yogyakarta, Sabtu malam, 5 September 2026. (iwa ikhwanudin/Radar Jogja) 
Dari kiri, Indra Tirtana, Stefani Michael, dan RM Kukuh Hertriasning atau Gusti Aning di sela screening film dokumenter “Kyai Jala Sutra Mukti” di Dalem Benawan, Yogyakarta, Sabtu malam, 5 September 2026. (iwa ikhwanudin/Radar Jogja) 

 JOGJA - Sebuah pusaka tidak selalu berhenti sebagai benda yang diwariskan dari masa lalu. Di tangan masyarakat yang terus bergerak, pusaka bisa menjadi ruang untuk membaca kembali nilai kebersamaan, doa, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Gagasan itu mengemuka dalam slametan sekaligus pemutaran film dokumenter “Kyai Jala Sutra Mukti” di Dalem Benawan, Yogyakarta, Sabtu malam, 5 September 2026. Acara berlangsung hangat dengan kehadiran puluhan tamu yang mengenakan busana batik. Momen tersebut juga bertepatan dengan ulang tahun Gusti Aning dan Gusti Sari.

Film produksi STE Film Production itu disutradarai sineas Indra Tirtana. Dokumenter tersebut merekam perjalanan lahirnya sebuah pusaka baru berupa tombak. Ide pembuatannya berangkat dari keresahan seorang pamong atau kepala dukuh di wilayah Ponjong, Gunungkidul, yang melihat perubahan sosial di tengah masyarakat.

Sosok tersebut adalah Amin Nugroho, Kepala Dukuh Bolodukuh Lor, Sidorejo, Ponjong, Gunungkidul. Dari kegelisahan itu, lahir gagasan menghadirkan pusaka yang tidak semata dipandang sebagai benda simbolik, tetapi juga sebagai pengingat tentang doa, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga harmoni kehidupan warga.

Indra membawa kisah tersebut ke dalam bahasa visual yang lebih luas. Nelayan yang menebarkan jala di tengah lautan menjadi salah satu simbol penting dalam film. Jala dimaknai sebagai ikhtiar merangkul kebaikan, air sebagai sumber kehidupan, sementara kapal menjadi gambaran ruang perjuangan manusia untuk bertahan dan mengayomi sesama.

Baca Juga: Dari Novel ke Layar Lebar, Film 3726 MDPL Bawa Callista Arum dan Abun Sungkar ke Rinjani

Proses pembuatan tombak melibatkan sejumlah pihak, mulai tokoh masyarakat, empu, hingga pemangku adat. Material yang digunakan disebut memadukan besi purba, pecahan meteor, dan bahan khusus yang disiapkan melalui rangkaian proses tradisional. Setiap tahapan diperlakukan bukan sekadar sebagai pekerjaan teknis, tetapi sebagai bagian dari perjalanan batin.

Hasil penempaan kemudian menghadirkan pamor biring yang dalam konteks film dimaknai sebagai simbol penghimpunan energi positif dan doa perlindungan bagi masyarakat. Makna tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat Jawa memandang pusaka, bukan hanya dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari nilai yang menyertainya.

Pegiat kebudayaan sekaligus cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, RM Kukuh Hertriasning atau Gusti Aning, turut menjadi bagian dari ruang kebudayaan yang dihadirkan dalam acara tersebut. Kehadirannya memperkuat suasana bahwa pembicaraan mengenai pusaka tidak bisa dilepaskan dari ingatan, tradisi, dan keberlanjutan nilai budaya.

Baca Juga: Menikmati Nyore Kalcer di USS Downtown Market Yogyakarta, Pameran Gaya Hidup Urban Siap Menyapa!

Produser film, Stefani Michael, mengatakan dokumenter ini ingin membuka perspektif yang lebih luas mengenai pusaka. Selama ini, pusaka sering kali ditempatkan dalam pembicaraan tentang hal mistis. Padahal, menurutnya, ada nilai sosial dan budaya yang dapat dibaca dari keberadaan sebuah pusaka.

Menariknya, produksi film juga melibatkan kru muda dari generasi Z. Selama proses syuting selama 11 hari, mereka tidak hanya bertugas mengambil gambar, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mempelajari filosofi yang melatarbelakangi pembuatan pusaka. Pengalaman itu perlahan mengubah cara mereka memandang warisan budaya sendiri.

Tantangan muncul ketika film memasuki tahap penyuntingan. Kru mengalami sejumlah gangguan teknis dan pengalaman yang mereka anggap berada di luar kebiasaan. Situasi tersebut sempat memunculkan ketegangan dan persepsi mistis. Namun, sutradara mengajak seluruh tim tetap tenang, berpijak pada nalar, sekaligus melakukan doa bersama hingga proses editing dapat dilanjutkan.

Pada akhirnya, “Kyai Jala Sutra Mukti” tidak hanya berbicara tentang tombak. Film ini menawarkan percakapan mengenai bagaimana tradisi dapat menemukan bentuk baru di tengah zaman yang berubah. Dari Dalem Benawan, kisah pusaka itu diharapkan dapat menjangkau publik yang lebih luas melalui ruang digital, sekaligus menjadi jembatan agar generasi muda tidak sekadar mengenal budaya Jawa, tetapi ikut merawat maknanya.

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Kyai Jala Sutra Mukti Indra Tirtana Kebudayaan Yogyakarta Pusaka Jawa film dokumenter