MUNGKID - Ribuan warga dari berbagai daerah berduyun-duyun ke Dusun Gunung Bakal, Sumberarum, Tempuran, Selasa (25/8). Mereka turut ambil bagian pada gelaran Gerebek Gunungan Lentheng dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu itu bukan sekadar perebutan gunungan. Tetapi juga menjadi ruang bertemunya tradisi, doa, dan keyakinan warga setempat yang diwariskan lintas generasi.
Sejak rangkaian acara berlangsung, kawasan Masjid Baiturrohim Gunung Bakal dipenuhi warga. Mereka tidak hanya datang dari desa-desa sekitar, tetapi juga dari sejumlah daerah di luar Kabupaten Magelang.
Baca Juga: Libur Nasional Maulid Nabi Muhammad SAW, Penumpang KAI Daop 6 Jogjakarta Naik 23 Persen
Kerumunan semakin padat ketika prosesi berlangsung. Warga mengikuti rangkaian acara, membaca selawat, hingga berusaha mendapatkan bagian dari Gunungan Lentheng yang sebelumnya ditempatkan di masjid.
Kepala Dusun Gunung Bakal, Ahmad Jadin menyebut, tidak ada catatan pasti mengenai tahun pertama tradisi itu digelar. Konon katanya, gerebek Gunungan Lentheng berkaitan dengan dakwah Kiai Raden Sayid Abdullah di wilayah Gunung Bakal.
Tradisi itu, lanjut dia, diperkirakan telah berlangsung sejak sekitar akhir abad ke-17 atau abad ke-18. "Ada cerita turun temurun yang menyebut bahwa tradisi itu sudah ada sebelum masa Perang Diponegoro," lontarnya.
Baca Juga: Usung Sleman Style, Pieter Huistra Ingin Lawan Beradaptasi dengan Gaya Bermain PSS Sleman
Pada masa itu, warga Gunung Bakal disebut belum sepenuhnya kuat dalam kehidupan keagamaannya. Kiai Raden Sayid Abdullah lantas menggunakan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal sebagai sarana memperkuat kehidupan keagamaan warga melalui perayaan yang kemudian dikenal sebagai gerebek Gunungan Lentheng.
Jadin menjelaslan, gunungan dalam tradisi ini tidak dibuat dari nasi atau hasil bumi sebagaimana gunungan dalam sejumlah tradisi Jawa lainnya. Bahan utamanya adalah lentheng, yakni olahan beras ketan yang melalui proses penumbukan, penjemuran, lalu digoreng.
Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Beras ketan terlebih dahulu direbus, kemudian ditumbuk atau dideplok hingga menjadi adonan. Adonan tersebut diletakkan di atas daun pisang dan dijemur selama sehari.
Baca Juga: Komitmen PSIM Jogja Evaluasi Akses Tiket, Berharap Lebih Mudah dan Aksesibel untuk Penonton
Setelah itu, kata dia, adonan dilepaskan dari daun pisang, kemudian dijemur kembali sehari sebelum akhirnya digoreng. Lentheng yang telah jadi kemudian ditusuk menggunakan lidi aren untuk disusun menjadi Gunungan Lentheng.
Jadin mengatakan, setiap keluarga di Gunung Bakal secara turun-temurun membuat lentheng untuk dibawa ke masjid. Jumlahnya tidak sama, tetapi rerata mencapai sekitar 20 hingga 30 kilogram (kg) beras ketan untuk setiap keluarga.
Jadin menambahkan, gunungan Lentheng juga memiliki struktur dan simbol yang tidak dibuat secara sembarangan. Dia menjelaskan, gunungan terdiri atas tiga tingkatan. Ketiganya melambangkan iman, Islam, dan ihsan.
Baca Juga: Mahasiswa Kedepankan Gerakan Intelektual, Tak Mau Terjebak Aksi Provokatif Akhir Agustus
Di bagian puncak terdapat ingkung atau ayam yang dimasak utuh. Simbol tersebut menggambarkan manusia yang lahir dalam keadaan tidak membawa apa-apa dan pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan yang sama.
Di atas gunungan juga terdapat benda berbentuk runcing yang oleh warga setempat disebut kayonet. Benda tersebut dibuat dari kayu dan dimaknai sebagai simbol ketauhidan atau keyakinan kepada Allah SWT.
Sementara bentuk gunungan sendiri memiliki makna tersendiri. Gunung dipandang sebagai simbol kemakmuran, sedangkan buah-buahan yang ditempatkan di dalamnya menggambarkan kemakmuran warga Gunung Bakal dan sekitarnya.
Baca Juga: Dua Iklan Rokok di Jalan Protokol Disegel, Satpol PP Jogja: Ditutup sampai Konten Diturunkan
Kepala Desa Sumberarum, Muhzen Fanani mengatakan, cerita mengenai usia tradisi tersebut memang belum sepenuhnya dapat dipastikan. Penelitian sejarah mengenai keberadaan tradisi dan sosok Raden Sayid Abdullah juga masih dilakukan.
Namun, dari cerita para orang tua dan keturunan tokoh tersebut, tradisi sudah berlangsung sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, terdapat cerita bahwa pelaksanaan gerebek Gunungan Lentheng pernah tidak digelar satu kali pada masa pendudukan Jepang.
Muhzen menyebut, perkiraan usia tradisi yang mencapai sekitar abad ke-18 masih terus diteliti. "Termasuk kaitannya dengan sejarah Mataram dan masa sebelum Perang Diponegoro,: paparnya.
Baca Juga: SSA Kategori Baik saat Re-Risk Assessment, PSIM Jogja Tetap Perlu Benahi Sejumlah Fasilitas
Dia melanjutkan, prosesi gerebek Gunungan Lentheng juga memiliki tata cara yang berkembang mengikuti kondisi di lapangan. Muhzen mengatakan, dahulu warga dapat mengitari gunungan lebih dari tiga kali sambil membaca selawat.
Namun, jumlah pengunjung yang semakin banyak membuat panitia harus membatasi pergerakan warga demi menjaga ketertiban. "Kalau dulu satu orang bisa mengitari area gunungan lebih dari tiga kali dengan membaca selawat. Sekarang karena keramaiannya cukup padat, dari panitia dibatasi tiga kali putaran," katanya.
Baca Juga: Umbul Tirtomulyo: Jejak Tradisi Padusan dan Sejarah di Desa Kemasan
Sementara itu, warga Kalinegoro, Isti Mardiyati, 54 mengaku baru pertama kali datang ke Gunung Bakal. Dia mengetahui tradisi tersebut dari tetangganya. "(Ke sini) mirengke ngaji (mendengarkan pengajian)," katanya.
Isti juga mengitari gunungan hingga tiga kali sambil membaca selawat. Meski tidak secara khusus mengetahui seluruh makna simbolik tradisi tersebut, ia mengaku senang bisa ikut dalam kegiatan itu. "Sebisanya (yang dibaca)," imbuhnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo