JOGJA — Kisah perempuan dan perjalanan migrasi menjadi napas utama pertunjukan Les Filles de la Mer (Daughters of the Sea) yang dibawakan kelompok seni asal Prancis, Artistique Théâtre, dalam rangkaian ARTJOG 2026.
Pertunjukan multidisiplin tersebut memadukan teater, tari, dan seni performans untuk membawa penonton menyusuri persoalan identitas, pengalaman migrasi, kekerasan terhadap perempuan, hingga relasi manusia dengan lingkungan.
Les Filles de la Mer dipentaskan selama dua hari, Jumat (21/8) dan Sabtu (22/8), dengan durasi sekitar 80 menit setiap sesi. Pertunjukan menggunakan konsep panggung melingkar sehingga penonton berada mengelilingi area pertunjukan.
Konsep tersebut membuat jarak antara penampil dan penonton terasa lebih dekat. Tubuh, gerak, suara, serta elemen visual menjadi bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pengalaman para karakter.
Perempuan, Pulau, dan Migrasi
Koreografer sekaligus salah satu penampil Les Filles de la Mer, Shaula Cambazzu, mengatakan terdapat tiga kata kunci yang menjadi fondasi karya tersebut, yakni perempuan, pulau, dan migrasi.
Baca Juga: Osasuna vs Levante, Prediksi Skor, H2h dan Susunan Pemain, Laga Perdana Los Rojillos di El Sadar
"Tiga kata utama yang mendasari seluruh karya ini adalah perempuan, pulau, dan migrasi," kata Shaula, Sabtu (22/8).
Cerita dalam pertunjukan mengikuti perjalanan sejumlah perempuan dari Asia, Afrika, dan Eropa. Mereka memiliki latar budaya serta pengalaman hidup yang berbeda sebelum perjalanan migrasi membawa mereka menuju Prancis.
Bagi Shaula, migrasi tidak semata-mata berbicara tentang perpindahan seseorang dari satu wilayah ke wilayah lain. Migrasi juga dapat menjadi pengalaman yang mempertemukan manusia dengan identitas, budaya, serta kemungkinan baru.
"Kami percaya migrasi adalah sebuah kekayaan bagi negara. Setiap orang yang datang dari tempat yang sangat jauh dapat membawa sesuatu yang baru, kaya, dan sangat berharga," ujarnya.
Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi penghormatan terhadap pengalaman perempuan dari berbagai penjuru dunia.
Kekerasan terhadap Perempuan Jadi Isu Global
Di balik cerita mengenai perjalanan dan perpindahan, Les Filles de la Mer juga menyentuh persoalan kekerasan terhadap perempuan.
Isu tersebut ditempatkan sebagai persoalan yang melampaui batas negara dan budaya.
"Kami juga terlibat untuk membicarakan kekerasan terhadap perempuan. Ini adalah persoalan global," kata Shaula.
Tubuh kemudian menjadi salah satu medium utama untuk menyampaikan persoalan tersebut. Gerakan dan koreografi digunakan untuk menggambarkan perjalanan batin, pencarian identitas, serta hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun orang lain.
Narasi persidangan yang hadir melalui suara latar menjadi salah satu kerangka dramaturgis. Narasi tersebut kemudian berpadu dengan bagian-bagian puitis, gerakan, koreografi, dan visual surealis.
Baca Juga: Roma vs Fiorentina. Prediksi Skor, H2h dan Susunan Pemain, Giallorossi Diunggulkan
Sesuai judulnya, laut menjadi elemen penting dalam pertunjukan.
Laut tidak hanya diposisikan sebagai batas geografis yang memisahkan satu wilayah dengan wilayah lain. Dalam karya ini, laut juga menjadi penghubung menuju ruang imajinasi dan berbagai kemungkinan.
Konsep kepulauan dan keterpisahan turut menjadi bagian dari eksplorasi dramaturgis.
Gagasan tersebut kemudian menemukan resonansi ketika karya dibawa ke Indonesia, negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau dengan beragam budaya dan bahasa.
Ada Karakter Perempuan Indonesia
Indonesia memiliki posisi khusus dalam Les Filles de la Mer. Salah satu karakter dalam pertunjukan merupakan perempuan Indonesia.
Karena itu, Artistique Théâtre sejak awal memiliki keinginan untuk datang langsung ke Indonesia, bertemu dengan perempuan Indonesia, serta memahami pengalaman dan perspektif mereka.
Proses penciptaan karya tersebut berlangsung sekitar tiga tahun sejak gagasan awal. Rencana kedatangan ke Indonesia sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.
Setelah sebelumnya dipentaskan di Paris dan menjalani tur di Yunani, Artistique Théâtre akhirnya membawa Les Filles de la Mer ke Indonesia.
Pertunjukan tersebut dijadwalkan hadir di lima kota. Setelah Surabaya dan Solo, rombongan kemudian tampil di Jogja, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung dan Jakarta.
"Kami sebenarnya ingin datang ke Indonesia untuk tinggal sebentar, memahami sesuatu, bertemu dengan beberapa perempuan, dan berbagi wawasan. Tapi kemudian ada pandemi jadi kami tidak bisa datang," tutur Shaula.
Baca Juga: Siswi SMP di Kota Jogja Jadi Korban Pencabulan Karyawan UKS, Modus Oles Minyak
Belajar Tari Jawa, Bali, hingga Reog
Selama berada di Indonesia, Shaula juga memanfaatkan kesempatan untuk mengenal berbagai kesenian tradisional.
Ia mempelajari tari klasik Jawa dan Bali, mengikuti lokakarya tari di Indramayu, serta menghabiskan waktu di Ponorogo untuk mengenal kesenian topeng dan Reog.
Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai keragaman budaya Indonesia.
"Ini sangat kuat, sangat kaya, dan sangat luas. Saya pikir kami baru mendapat sedikit gambaran tentang Indonesia karena Indonesia sangat besar, dengan begitu banyak pulau, budaya, dan bahasa," ujarnya.
Pertemuan dengan konsep Tanah Air juga menjadi salah satu pengalaman yang menarik bagi Shaula. Gagasan mengenai tanah dan air kemudian memiliki keterkaitan dengan bahasa visual yang digunakan dalam tata panggung Les Filles de la Mer.
Tari Tradisional Indonesia Diterjemahkan Secara Kontemporer
Karakter perempuan Indonesia dalam pertunjukan diperankan Kadek Puspasari, seniman yang memiliki latar belakang tari klasik dan kontemporer Jawa serta Bali.
Shaula dan Lucile Cocito menjadi bagian dari tim penyutradaraan karya tersebut.
Perbedaan latar budaya para seniman justru menjadi bagian penting dalam proses kreatif. Shaula sendiri lahir di Italia dan kini tinggal di Paris, sementara Lucile memiliki latar belakang Prancis-Belgia.
"Ini memang jadi keinginan kami. Kami terus hidup dan bekerja dengan orang-orang yang datang dari berbagai belahan dunia. Itu sangat berharga dan memperkaya," kata Shaula.
Meski memiliki latar belakang tari tradisional Indonesia, Kadek tidak secara langsung menampilkan tari tradisional sebagai bagian dari pertunjukan.
Baca Juga: Siswa SMPN 3 Gamping Tewas Tertabrak Motor, Polisi Dalami Dugaan Saling Cegat Pelajar
Pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh kontemporer.
"Ada sedikit rasa dari itu. Kadek punya latar belakang yang kuat dalam tari klasik dan kontemporer. Jadi dia membawa semacam puisi dan inspirasi, tetapi dalam versi yang sepenuhnya kontemporer," jelas Shaula.
ARTJOG Dinilai Ruang yang Tepat
Bagi Shaula, ARTJOG menjadi ruang yang sesuai untuk menghadirkan Les Filles de la Mer karena festival tersebut berada di persimpangan antara seni pertunjukan dan seni visual.
Selain tampil, ia juga mendapatkan kesempatan melihat pameran yang menjadi bagian dari ARTJOG.
"Kami sangat senang berada di sini. Karena kami juga berada di persimpangan antara seni pertunjukan dan seni visual, kami merasa ini adalah tempat yang tepat bagi kami," tuturnya.
Pertemuan antara seni pertunjukan dan seni visual tersebut juga memperkaya pengalaman Artistique Théâtre selama berada di Yogyakarta.
Respons penonton terhadap Les Filles de la Mer beragam. Salah seorang penonton, Alfi Humaira, mengaku tidak sepenuhnya memahami bahasa seni kontemporer yang digunakan dalam pertunjukan.
Meski demikian, ia tetap terkesan dengan cara para seniman menyampaikan pesan.
"Sejujurnya saya tidak benar-benar bisa paham penampilan seni kontemporer, tapi ada perasaan kagum dengan penampilannya. Mulai dari bagaimana mereka menarasikan pesan, pertunjukan teatrikalnya," kata Alfi.
Menurutnya, karya tersebut terasa memiliki kedalaman, terutama setelah mengetahui bahwa cerita yang dibawakan berkaitan dengan pengalaman manusia dan kisah nyata.
Baca Juga: Siswa SMPN 3 Gamping Tewas Tertabrak Motor, Polisi Dalami Dugaan Saling Cegat Pelajar
"Menurut saya ini bagus dan dalam, apalagi ternyata ini berdasarkan kisah nyata. Saya cukup menikmati penampilan mereka selama satu jam lebih tadi," ujarnya.
Penonton ARTJOG Dinilai Terbuka terhadap Seni Kontemporer
Sementara bagi Shaula, respons penonton di Yogyakarta menjadi bagian penting dari pengalaman mereka.
Ia menilai penonton ARTJOG cukup terbiasa dengan seni pertunjukan kontemporer. Hal itu terlihat dari perhatian penonton selama pertunjukan hingga diskusi yang berlangsung setelah pementasan.
"Mereka benar-benar hadir bersama kami. Setelah pertunjukan, kami juga punya waktu bertukar pikiran. Kami berbicara tentang latar belakang koreografi, akar dan inspirasi, dan berbagai topik dalam karya. Itu sangat kaya," katanya.
Les Filles de la Mer akhirnya tidak hanya menjadi pertunjukan tentang perempuan dan migrasi. Di ARTJOG 2026, karya tersebut menjadi ruang perjumpaan antara berbagai budaya, pengalaman manusia, seni pertunjukan, dan seni visual.
Dari laut sebagai batas hingga tubuh sebagai bahasa, Artistique Théâtre membawa penonton untuk melihat migrasi bukan semata sebagai perpindahan, melainkan sebagai perjalanan menemukan identitas, memahami perbedaan, dan membangun hubungan baru dengan dunia.
Baca Juga: Siswa SMPN 3 Gamping Tewas Tertabrak Motor, Polisi Dalami Dugaan Saling Cegat Pelajar
Program pertunjukan Les Filles de la Mer di ARTJOG 2026 turut didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.
Editor : Bahana.