Akulturasi Budaya di Klenteng Tua Jawa Timur: Potret Harmoni Islam, Tionghoa, dan Tradisi Jawa

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 11:29 WIB
TERTUA: Kelenteng Hok Tien Hian di Jalan Dukuh Surabaya, disebut-sebut sebagai salah satu yang tertua di Surabaya
TERTUA: Kelenteng Hok Tien Hian di Jalan Dukuh Surabaya, disebut-sebut sebagai salah satu yang tertua di Surabaya

Jawa Timur menyimpan jejak sejarah panjang perjumpaan antarperadaban. Salah satu bukti paling konkret dari perjumpaan tersebut terekam dalam dinding-dinding klenteng tua yang tersebar di wilayah pesisir utara hingga pedalaman—seperti di Surabaya, Tuban, Gresik, hingga Malang. 

Di bangunan-bangunan ini, arsitektur dan ritual tidak hanya memancarkan tradisi Tionghoa, tetapi juga berpadu secara alami dengan unsur Islam dan kearifan lokal Jawa.

Akulturasi ini bukanlah hasil dari rekayasa sosial apalagi paksaan politik, melainkan buah dari proses interaksi sosial-ekonomi yang berlangsung secara damai selama ratusan tahun melalui jalur perdagangan maritim dan pernikahan antarbangsa.

Harmoni tiga budaya ini dapat dilihat dari beberapa fenomena unik di klenteng-klenteng tua Jawa Timur.

Baca Juga: Makna Busana Adat Jawa Sanggul dan Beskap dalam Filosofi Kehidupan Masyarakat Urban

  1.   Pemujaan Tokoh Muslim di Altar Klenteng

Di beberapa tempat, seperti Klenteng Hong Tiek Hian Surabaya atau Klenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan, terdapat altar khusus untuk menghormati figur-figur seperti Kwan Sing Tee Koen yang berdampingan dengan penghormatan pada tokoh lokal atau wali. Bahkan di kawasan pesisir, tak jarang ditemukan makam keramat atau petilasan tokoh berlatar belakang Muslim yang dirawat bersama oleh warga Tionghoa dan Jawa.

  2.   Arsitektur Hibrida

Bentuk atap Gable berhias naga khas Tiongkok sering kali berdiri di atas struktur tiang penyangga berkonsep kayu mirip pendopo Jawa. Penggunaan ornamen batik atau ragam hias lokal pada interior klenteng menunjukkan betapa cairnya batas-batas kebudayaan pada masa lalu.

  3.   Tradisi Kuliner dan Akulturasi Ritual

Perayaan Cap Go Meh yang menyajikan Lontong Cap Go Meh adalah bukti paling populer. Lontong dipadukan dengan masakan berkuah santan kaya rempah, menciptakan simbol penyesuaian diri warga keturunan Tionghoa dengan selera lokal, sekaligus doa keselamatan bersama.

Baca Juga: Singapura vs Indonesia, John Herdman Sebut Jadi Ujian Terbaik Skuad Garuda

Di tengah maraknya narasi sektarian dan polarisasi sosial yang rentan memecah belah bangsa, keberadaan klenteng-klenteng tua ini menyuarakan pesan damai yang sangat kuat. Tempat-tempat ini menjadi bukti sejarah bahwa perbedaan etnis dan kepercayaan pernah—dan masih bisa—hidup saling berdampingan, saling menghormati, serta saling memperkaya.

Klenteng tua di Jawa Timur bukan sekadar tempat ibadah atau situs cagar budaya. Ia adalah laboratorium sosial yang menjadi  identitas kebudayaan Indonesia dibentuk dari sifat terbuka, toleran, dan keberanian untuk merangkul perbedaan.



Editor : Bahana.
Klenteng jawa timur harmoni