Terlahir sebagai penyandang disabilitas tuna rungu tidak menghalangi Syafiq Raif Muzaffar, 16, untuk terus berkarya. Siswa kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Kapanewon Banguntapan, itu mampu menunjukkan bakatnya melalui goresan warna di atas kanvas hingga berhasil meraih Juara I Nasional festival dan lomba seni siswa nasional (FLS2N) cabang melukis.
Prestasi tersebut tidak diraih secara instan. Sebelum akhirnya berdiri sebagai juara pertama tingkat nasional, Raif telah tiga kali mengikuti ajang FLS2N. Dua kesempatan sebelumnya menjadi pengalaman berharga karena ia harus puas meraih juara harapan, hingga akhirnya berhasil mencapai posisi tertinggi.
Guru pendamping Raif Khasna Nada menceritakan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang, mulai dari latihan, pendampingan, hingga ketekunan Raif dalam mengembangkan kemampuannya.
Baca Juga: Pemkab Magelang Kembali Gulirkan Beasiswa Rp 5 Juta per Semester, Kampus Mitra Bertambah Jadi 21
Terlebih, Raif merupakan anak perantauan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Bantul. "Raif ini kan pindah ke sekolah ini sekitar kelas 4 SD," katanya saat ditemui di ruang kerjanya Kamis (23/7).
Saat kali pertama bergabung dengan SLB Islam Qothrunnada, Raif sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia gambar. "Dia dulu cuma suka gambar karakter kartun seperti Doraemon dan Pokemon di lembaran kertas," ujarnya.
Melihat potensi yang dimiliki Raif, para guru kemudian mulai memberikan pendampingan agar bakat tersebut berkembang. Karena berasal dari luar daerah, Raif tinggal di asrama SLB Islam Qothrunnada.
Di lingkungan tersebut, ia mendapatkan pembinaan, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler melukis yang didampingi oleh guru seni lukis. "Dia enggak setiap hari melukis. Jadi, ada waktu-waktu tertentu saja," katanya.
Ketika jadwal belajar berlangsung, Raif tetap fokus mengikuti pembelajaran. Namun saat waktu senggang, seperti istirahat, menunggu waktu salat, atau setelah salat, ia sering memilih menggambar untuk mengisi waktu. "Jadi kalau gabut ngambil kertas terus gambar tipis-tipis. Kalau lagi mood banget, gambarnya bisa bagus sekali," tuturnya.
Perjalanan Raif menuju panggung nasional juga dilakukan secara bertahap. Saat duduk di kelas V SD pada 2024, ia berhasil menembus tingkat nasional FLS2N kategori gambar ekspresi menggunakan media krayon dan meraih Juara Harapan III. Kemudian saat kelas VI, prestasinya meningkat dengan meraih Juara Harapan I pada kategori yang sama.
Baca Juga: Pastikan Pilur Gunungkidul Tanpa Calon Tunggal, Dua Kalurahan Berpotensi Seleksi Tambahan
Namun, saat memasuki jenjang SMP, Raif menghadapi tantangan baru. Aturan lomba FLS2N membuat kategori gambar ekspresi hanya diperuntukkan hingga jenjang SD. Karena itu, ketika duduk di kelas VII SMP, Raif harus beralih ke kategori seni lukis dengan media kanvas dan cat akrilik. "Itu benar-benar pertama kalinya dia pegang kanvas dan cat akrilik dari nol," katanya.
Meski harus belajar dari awal, kemampuan dasar yang telah dimiliki Raif dalam memahami warna menjadi modal penting. Ia kemudian berhasil meraih Juara I tingkat Kabupaten Bantul, dilanjutkan Juara I tingkat DIJ, hingga akhirnya melaju ke tingkat nasional. "Kami tak menyangka, ternyata alhamdulillah bisa dapat juara 1," tuturnya.
Dalam ajang FLS2N tingkat nasional tersebut, Raif mengangkat tema kebudayaan Jogjakarta melalui karya berjudul "Semarak Pesta Kesenian Rakyat Jogjakarta."
Karya itu lahir dari proses diskusi dan kolaborasi antara Raif, guru pendamping, serta pelatih. Lukisan tersebut menggambarkan suasana budaya Jogjakarta. Termasuk penampilan penari tunadaksa yang membawakan Tari Mangastuti.
Pemilihan Tari Mangastuti bukan tanpa alasan. Tarian tersebut memiliki makna tentang ungkapan rasa syukur, doa, serta harapan akan keberkahan dan kejayaan.
Di balik keberhasilannya sebagai pelukis muda, Raif juga memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan. Remaja tuna rungu tersebut ingin menjadi ustaz agar dapat mengajarkan ilmu kepada anak-anak.
Baca Juga: Hutan Pinus 0,65 Hektare Terbakar, Karhutla Lereng Andong Berhasil Dipadamkan Kurang dari Tiga Jam
"Harapannya Raif semakin semangat belajar, terus berkarya, dan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak lain," ujarnya.
Sementara itu, Raif mengaku senang bisa meraih prestasi di ajang FLS2N. Didampingi Khasna, ia mengungkapkan sempat merasa gugup saat menunggu pengumuman hasil lomba. "Saya senang sekali," ungkapnya menggunakan bahasa isyarat. (pra)
Editor : Heru Pratomo