Mengenal Davin Mahatma Peserta Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026, Tumbuh Kecintaan Dunia Pedalangan sejak Usia TK

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 21:05 WIB
Dalang remaja Davin Mahatma memainkan wayang kulit dalam Festival Dalang Anak dan Remaja DIJ 2026 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa  (21/7/2026). FOTO: GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
Dalang remaja Davin Mahatma memainkan wayang kulit dalam Festival Dalang Anak dan Remaja DIJ 2026 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (21/7/2026). FOTO: GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA - Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 menjadi ruang pembuktian sekaligus ajang regenerasi bagi para dalang muda.

Salah satunya ditunjukkan Davin Mahatma, 17, peserta asal Sleman yang tampil membawakan lakon Subali Sugriwa pada festival yang digelar Dinas Kebudayaan DIY di Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Selasa (21/7/2026).

Dalam penampilannya, siswa SMK Negeri 1 Kasihan (SMKI) Bantul itu mengangkat kisah perjuangan Subali dan Sugriwa menyelamatkan Dewi Tara, bidadari kahyangan yang diculik Maeso Suro dan Lembu Suro.

Baca Juga: Becak Listrik Gratis Kian Diminati, Dishub DIY Kenalkan Transportasi Ramah Lingkungan di Malioboro

Davin mengaku kecintaannya terhadap dunia pedalangan tumbuh sejak usia taman kanak-kanak (TK). Berawal dari sering menonton pertunjukan wayang, rasa penasaran membawanya bergabung ke Sanggar Sumunar hingga akhirnya memilih memperdalam ilmu pedalangan di SMKI Yogyakarta.

"Awalnya sering melihat wayang, lama-lama senang. Akhirnya mencari sanggar dan sekarang mendalami di SMKI," ujarnya kepada wartawan.

Menurut Davin, menjadi seorang dalang bukan sekadar menggerakkan wayang di balik kelir. Seorang dalang dituntut menguasai cerita, menghafal naskah, hingga memiliki kemampuan vokal pedalangan sebagai penanda iringan gamelan.

"Susahnya itu menghafalkan naskah. Kalau sampai blank saat pentas, akan repot melanjutkan ceritanya. Selain itu dalang harus menguasai suluk, keprakan, dan dodogan karena itu menjadi kode bagi para pengrawit," katanya.

Baca Juga: Ahmad Luthfi Minta Tegal Business Forum Hasilkan Investasi, Bukan Sekadar Seremoni

Ia menilai festival seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan seni wayang di kalangan generasi muda. Selain menjadi ruang tampil, kompetisi juga memacu para peserta untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

"Festival seperti ini dibutuhkan untuk regenerasi. Jadi orang semakin semangat belajar karena ingin menjadi lebih baik lagi," ungkapnya.

Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 digelar pada 21–24 Juli dan menjadi salah satu upaya untuk melestarikan seni pedalangan sekaligus mencetak generasi penerus yang mampu menjaga warisan budaya Jawa.

Baca Juga: Erwan Kembali, Wendy Tak Lagi Panpel, PSIM Jogja Gandeng Mantan Wartawan hingga Sekretaris Timnas

Bagi Davin, wayang bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga sarat nilai kehidupan. Semakin mendalami pedalangan, semakin banyak filosofi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Tokoh Puntadewa misalnya digambarkan sebagai sosok yang jujur. Banyak nilai luhur seperti itu yang bisa dijadikan teladan, baik bagi dalang maupun penonton," tuturnya. (bas)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
regenerasi Festival dalang anak Dinas Kebudayaan DIY Pedalangan remaja