Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seniman Jessica Soekidi Angkat Relasi Leluhur, Ketahanan Pangan, dan Generasi Masa Depan Lewat Instalasi Umbi "The Disco of Roots"

Yusuf Bastiar • Kamis, 16 Juli 2026 | 20:52 WIB
The Disco of Roots karya Jessica Soekidi - Yusuf Bastiar
The Disco of Roots karya Jessica Soekidi - Yusuf Bastiar

 JOGJA - Umbi tak sekadar menjadi bahan pangan dalam karya instalasi yang dipamerkan di ARTJOG 2026. Di tangan seniman sekaligus arsitek Jessica Soekidi, tanaman yang tumbuh di bawah permukaan tanah itu berubah menjadi simbol identitas, memori leluhur, hingga refleksi ketahanan pangan Indonesia. Melalui karya berjudul The Disco of Roots, Jessica mengajak publik menafsirkan kembali makna asal-usul dan jati diri yang dinilainya masih terus berproses.

Karya tersebut menjadi salah satu instalasi yang dipamerkan dalam ARTJOG 2026 bertajuk ARS LONGA: GENERATIO. Jessica menyebut identitas tidak pernah bersifat tetap, melainkan terus dibentuk oleh hubungan antargenerasi, ruang hidup, sejarah, hingga perubahan sosial yang berlangsung sepanjang waktu.

"Karya ini berbicara tentang identitas yang selalu berkembang. Umbi menjadi simbol karena ia bukan hanya makanan, tetapi juga benih yang menyimpan memori, sejarah, dan keberlanjutan generasi," ujarnya sesuai giat Meet the Artist, Kamis sore (16/7/2026).

Dalam instalasi itu, Jessica menghadirkan tiga elemen utama berupa umbi yang digantung dengan tunas yang mulai tumbuh, piramida terbalik berlapis material reflektif, serta struktur menyerupai totem yang nantinya dapat dibuka untuk dipanen pada akhir pameran. Seluruh elemen, kata dia, sengaja dirancang untuk menggambarkan proses pertumbuhan, reproduksi, dan hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Baca Juga: Kapan Nyeri Punggung Harus Segera Diperiksakan? Kenali Tanda-Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan

Jessica menjelaskan, material tanah yang digunakan juga bukan dipilih secara acak. Sebagian tanah didatangkan dari Banyuwangi, sementara keramik yang menjadi bagian instalasi dibuat menggunakan tanah bekas lahan yang sebelumnya ditanami singkong. Baginya, setiap material memiliki jejak sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari identitas suatu tempat.

"Saya ingin bicara soal leluhur dari tanah itu sendiri. Tanah yang pernah ditanami singkong memiliki cerita. Identitas tidak bisa dilepaskan dari asal-usul ruang hidupnya," katanya.

Seniman sekaligus arsitek Jessica Soekidi,
Seniman sekaligus arsitek Jessica Soekidi,

 

Jessica juga menyinggung perjalanan kentang sebagai komoditas yang masuk ke Indonesia melalui kolonialisme Belanda hingga penyebarannya pada masa pendudukan Jepang. Bahkan istilah jagaimo dalam bahasa Jepang yang berarti "kentang dari Jakarta" menunjukkan bagaimana identitas suatu komoditas terbentuk melalui perjalanan sejarah, bukan semata asal biologisnya.

Menurutnya, persoalan identitas masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia. Ia menilai masyarakat lebih banyak disibukkan dengan upaya bertahan hidup dibanding memahami akar sejarah dan alasan keberadaannya sebagai sebuah bangsa.

"Indonesia menurut saya belum selesai dengan identitasnya sendiri. Kita mudah terombang-ambing dan dipecah belah karena tidak pernah benar-benar mengenali siapa diri kita. Orang sibuk memikirkan bagaimana bertahan hidup, tetapi jarang bertanya mengapa harus bertahan hidup," tuturnya.

Persoalan itu, lanjut Jessica, berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik. Karena itu ia menghubungkan narasi identitas dengan isu ketahanan pangan sebagai bekal bagi generasi mendatang.

Salah seorang penikmat karya seni Jessica, Hanalogi Semata mengaku, melihat karya Jessica menyimpan banyak lapisan pengetahuan. Menurutnya, instalasi tersebut tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga memadukan pendekatan arsitektur, seni rupa, hingga refleksi sejarah yang saling bertaut.

Baca Juga: Wagub Taj Yasin Usul Pendidikan Vokasi Perlu Dikenalkan Sejak SMP

"Karya Jessica punya banyak lapisan pengetahuan. Dari luar kita melihat bentuknya, lalu masuk ke dalam ada refleksi, keramik, dan berbagai elemen arsitektural yang membuat kita ingin memahami proses berpikir di balik karya itu," ungkapnya. (bas)

Editor : Bahana.
artjog 2026 Jessica Soekidi The Disco of Roots