Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenang 81 Hari dalam Sel Gelap: Ai Weiwei Gelar Teatrikal Live 24 Jam Reka Ulang Interogasi Penjaranya

Tita Aurelia Pitaloka • Jumat, 3 Juli 2026 | 15:07 WIB
Postingan Instagram Pribadi Ai Weiwei (Sumber: instagram.com/aiww)
Postingan Instagram Pribadi Ai Weiwei (Sumber: instagram.com/aiww)
Seniman kontemporer sekaligus aktivis hak asasi manusia terkemuka asal Tiongkok, Ai Weiwei, siap mengguncang dunia seni internasional melalui sebuah aksi pertunjukan seni (performance art) yang sangat radikal dan personal. 

Bertajuk "Sewing a Button", Ai Weiwei akan merekonstruksi secara langsung dan real-time pengalaman traumatisnya saat ditahan secara rahasia oleh otoritas keamanan Tiongkok 15 tahun silam.

Pertunjukan nonstop berdurasi 24 jam penuh ini digelar di The Hall, Aviva Studios (markas Factory International), Manchester, Inggris, mulai tanggal 3 Juli pukul 17.00 waktu setempat hingga 4 Juli 2026.

Karya monumental ini menjadi bagian utama dari pameran tunggalnya yang bertajuk Button Up!, sebuah ruang eksibisi yang mengeksplorasi tema-tema sensitif seputar pengawasan massal (surveillance), sensor negara, kebebasan berekspresi, serta dinamika relasi politik-sejarah antara Tiongkok dan Inggris.

Replika Sel Asli dan Simulasi Interogasi Tanpa Batas

Baca Juga: Mengenal sosok Tawanan Perang Belanda dan Pembuat Gebrakan Puskesmas yang Sempat Ditegur Presiden Soekarno

Pada tahun 2011 silam, Ai Weiwei sempat ditangkap dan ditahan secara rahasia tanpa tuntutan hukum formal oleh pihak Keamanan Publik di Tiongkok selama 81 hari. Selama masa kelam tersebut, ia hidup terisolasi di dalam sebuah sel tunggal yang sempit di bawah pengawasan ketat 24 jam.

Dalam pertunjukan "Sewing a Button", Ai Weiwei menghadirkan replika sel tahanan militer tersebut dalam ukuran asli sesuai aslinya. Sepanjang 24 jam penuh, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung aktivitas harian sang seniman di dalam sel tiruan tersebut, mulai dari makan, tidur, menulis, membasuh diri, hingga melakukan olahraga kecil.

Tidak hanya aktivitas pasif, pertunjukan ini juga menyimulasikan ketegangan psikologis melalui sesi interogasi langsung. Empat jurnalis dan penyiar senior internasional lintas latar belakang didatangkan khusus untuk berperan sebagai interogator. Mereka adalah:

Nihal Arthanayake
Emma Dabiri
Lemn Sissay
Zing Tsjeng

Berbekal pengalaman panjang mereka dalam mewawancarai politikus ulung dan tokoh budaya dunia, keempat interogator ini akan membawa gaya interogasi khas masing-masing untuk melontarkan rentetan pertanyaan tajam dan mendalam kepada Ai Weiwei di dalam sel.

Kolaborasi Audio dan Siaran Global Secara Real-Time

Untuk memperkuat atmosfer ketakutan, isolasi, dan tekanan mental yang nyata di dalam ruang tahanan, duo musisi elektronik asal Manchester dan Berlin, Space Afrika, turut digandeng untuk mengomposisi lanskap suara (soundscape). Mereka akan melakukan live-mixing audio secara langsung sepanjang pertunjukan bergulir.

Baca Juga: SPMB SMPN di Kulon Progo Kekurangan Murid, Disdikpora Kulon Progo Jelaskan Penyebabnya!

Mengingat signifikansi pesan politik dan kemanusiaan yang dibawa oleh proyek ini, "Sewing a Button" tidak hanya dapat dinikmati oleh pengunjung fisik di Manchester.

Aksi teatrikal 24 jam ini juga disiarkan secara daring (live streaming) ke seluruh dunia, termasuk mengadakan acara nonton bareng (screening) serentak di sejumlah institusi seni ternama dunia, seperti ACMI di Australia, ARTHAUS di Argentina, CIRCA di London, hingga Dover Street Market di Paris.

Melalui karya ini, Ai Weiwei kembali membuktikan bahwa seni bukan sekadar estetika visual, melainkan sebuah instrumen perlawanan dan pengingat berharga akan mahalnya sebuah kebebasan. 

Editor : Bahana.
#ai wwiwi