JOGJA - Manajemen ARTJOG masih terus melakukan penelusuran terkait insiden yang melibatkan seorang seniman saat pembukaan ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6) malam.
PR & Publication Director PT ARTJOG Matra Nusantara Amelberga Astri mengaku menyesalkan peristiwa tersebut. Pihaknya kini tengah mengumpulkan berbagai informasi sebelum menyampaikan sikap resmi.
"Kami juga cukup kaget karena itu posisinya baru habis opening banget, terus tiba-tiba sudah ramai," ujarnya saat ditemui tim Radar Jogja di ARTJOG 2026, Sabtu (20/6).
Menurut Ami, panggilan akrabnya, ARTJOG saat ini tengah berupaya menelusuri kronologi kejadian melalui berbagai sumber. Termasuk rekaman CCTV dan video yang diperoleh dari sejumlah pihak yang berada di lokasi.
"Mudah-mudahan kita bisa melihatnya lebih jernih," katanya.
Secara prinsip, Ami menuturkan, ARTJOG mengaku juga masih mendalami laporan mengenai dugaan pemukulan yang disebut terjadi saat aksi teatrikal berlangsung pada seniman terkait.
Ia menegaskan, ARTJOG tidak memiliki niat untuk membatasi ataupun merepresi aspirasi yang disampaikan oleh kelompok seniman yang melakukan aksi tersebut.
"Jadi kita juga tidak ada menghalangi apa pun, tidak ada merepresi aspirasi mereka," ujarnya.
ARTJOG bahkan telah menerima dokumen berisi aspirasi yang dibawa oleh performer saat aksi berlangsung. Selain itu, komunikasi juga disebut telah dilakukan secara langsung dengan pihak yang terlibat setelah kejadian.
Terkait aksi pelemparan cat ke area fasad JNM yang memuat karya ARTJOG, Ami mewakili tim ARTJOG memilih tidak menghapus jejak aksi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap ekspresi yang disampaikan.
"Itu bentuk-bentuk aspirasi teman-teman. Yang di atas sejauh ini akan kita diemin. Maksudnya kita juga tidak akan cat untuk hapus," katanya.
Di sisi lain, ARTJOG juga merespons tuntutan Koalisi ArtJokes yang meminta dibukanya ruang dialog. Ami menegaskan terbuka terhadap komunikasi selama dilakukan melalui mekanisme yang jelas.
"Kalau untuk dialog atau gimana, kemudian kepada siapakah kami harus mengomunikasikan itu," ujarnya.
Selain insiden saat pembukaan, ARTJOG juga masih mengevaluasi polemik yang muncul terkait keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) yang sebelumnya sempat tercantum sebagai strategic partner sebelum akhirnya dicabut.
Menurut Ami, manajemen ARTJOG saat ini masih memetakan berbagai persoalan yang muncul sekaligus berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Kita masih pelan-pelan memetakan. Oke yang ini harus diapain, yang ini harus diapain. Termasuk kaitannya dengan DHF, kami juga sedang menentukan arah percakapan dan langkah berikutnya," katanya.
Ia mengakui polemik tersebut memang berdampak terhadap sejumlah mitra pendukung kegiatan. Beberapa sponsor diakuinya juga ada yang mundur.
Meski demikian, ARTJOG menilai dinamika keluar-masuk sponsor merupakan hal yang lazim dalam penyelenggaraan festival berskala besar.
"Sponsorship dalam festival itu sangat dinamis. Sponsor bisa masuk atau mundur kapan pun dibutuhkan dan kita menghargai itu sebagai bagian dari proses," ujarnya.
Lebih lanjut, ARTJOG juga membantah tudingan keterlibatan sponsor tertentu memengaruhi proses kuratorial maupun kebebasan berekspresi para seniman yang terlibat dalam pameran.
"Teman-teman seniman perupa masih tetap terlibat karena memang tidak ada intervensi yang dituduhkan. Itu sama sekali tidak ada," tegas Ami.
Menurutnya, proses kuratorial ARTJOG 2026 telah disusun jauh sebelum pelaksanaan dan bahkan sebelum penyelenggaraan ARTJOG tahun sebelumnya berakhir.
"Kuratorial dan pemilihan seniman sudah digodok sejak tahun lalu. Bahkan senimannya sudah ditentukan jauh sebelum pelaksanaan," katanya.
ARTJOG menyatakan saat ini masih menyusun pernyataan resmi terkait insiden saat pembukaan maupun polemik DHF. Pernyataan tersebut diharapkan dapat disampaikan dalam waktu dekat setelah proses pengumpulan informasi selesai dilakukan. (iza)
Editor : Heru Pratomo