Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Satu Dekade Keroncong Plesiran Gelar Pentas di Candi Prambanan: Terus Hidup, Berkembang, dan Ciptakan Regenerasi Pelaku Seni

Kusno S Utomo • Senin, 15 Juni 2026 | 08:00 WIB
KOLABORATIF: Satu dekade Keroncong Plesiran digelar di Candi Prambanan. Pentas ini mampu memberikan dampak luas. Mendatangkan wisatawan, menggerakkan UMKM, dan berbagai usaha masyarakat lainnya. Foto: Rizky Wahyu/Radar Jogja
KOLABORATIF: Satu dekade Keroncong Plesiran digelar di Candi Prambanan. Pentas ini mampu memberikan dampak luas. Mendatangkan wisatawan, menggerakkan UMKM, dan berbagai usaha masyarakat lainnya. Foto: Rizky Wahyu/Radar Jogja

SLEMAN - Tak terasa perjalanan Kerocong Plesiran memasuki satu dekade. Menandai itu digelar pentas di Candi Prambanan, pada Sabtu (13/6/2026) dan Minggu (14/6/2026). Memasuki hari kedua sukses menyedot ribuan penonton. Mereka datang dari berbagai daerah. Khusus menyaksikan momen istimewa itu. Pentas dimulai pukul 15.00. Penonton sudah berdatangan. 

Penampil pertama Gadis Gendhis. Penampilan kedua giliran Orkes Sinten Reman. Area depan panggung tampak sudah mulai penuh.Pertunjukan Keroncong Plesiran di hari kedua ini menampilkan musisi lintas generasi. Genre yang menarik.

Usai Sinten Remen disusul YKHC, Symphony Kerontjong Moeda, dan Egha De Latoya. Lalu Jimi Multhazam, Kunto Aji, Ghea Indrawari. Pentas dipungkasi dengan kehadiran Armand Maulana.

Baca Juga: Tiga Raperda Disepakati, DPRD Gunungkidul Dorong Regulasi Tepat Sasaran 

Founder Keroncong Plesiran Ari Kancil mengatakan, perayaan satu dekade ini menjadi penegasan keroncong terus hidup. Berkembang melalui karya-karya baru danmenciptakan regenerasi pelaku seni. Momentum satu dekade Keroncong Plesiran ini juga menampilkan  album kompilasi. “Berisi 10 grup keroncong anak muda se-Indonesia,” ujar Kancil sapaan akrabnya, Minggu (14/10/2026).

Ada juga buku perjalanan Keroncong Plesiran. Ditambah katalog anotasi dan film dokumenter Waldjinah. Panitia mengarsipkan lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Waldjinah. "Kami anak muda mencintai musik keroncong ingin mengapresiasi kepada senior keroncong,” lanjutnya.

Kancil menambahkan, dipilihnya Candi Prambanan menjadi lompatan besar. Sebab, sejak pentas pertama hingga sembilan, Keroncong Plesiran konsisten memilih lokasi-lokasi wisata eksotis dan tersembunyi. "Kami pernah di Mangunan, Tebing Breksi, Nglanggeran, Desa Wisata Tinalah, Asram, dan lainnya,” kata Kancil.

Baca Juga: Usung Semangat Sinergi Total untuk Cetak Talenta hingga Timnas, Askab PSSI Sleman Periode 2026-2030 Resmi Dilantik

Eksis selama 10 tahun, sektor pemberdayaan masyarakat dan promosi wisata daerah menjadi napas utama.Keterlibatan para pelaku UMKM semakin diperluas. Kehadiran penonton selalu berhasil memutar roda perekonomian warga sekitar lokasi acara.

Ini menjadi keberhasilan dari konsep kolaboratif dan sinergi. Sejak awal hingga sekarang, Keroncong Plesiran terus didukung Dinas Pariwisata DIY. 

“Kami berterima kasih atas fasilitasi yang diberikan sehingga bisa konsisten berjalan hingga sepuluh kali pentas ini," ceritanya.

Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY Antarikso Trisno Bawono menilai, Keroncong Plesiran  menjadi contoh nyata kegiatan budaya mampu memberikan dampak luas bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Festival tdak hanya menghadirkan hiburan berkualitas. Tapi juga mendatangkan wisatawan, menggerakkan UMKM, mendukung sektor perhotelan, transportasi, dan berbagai usaha masyarakat lainnya. 

“Inilah bentuk sinergi budaya dan pariwisata yang terus kami dorong," ujarnya. (ayu/kus).

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#keroncong plesiran #pentas #pelaku seni #satu dekade #candi prambanan