MAGELANG - Rangkaian Gerebek Suro 2026 di Gunung Tidar bakal dihelat, 14-25 Juni 2026. Gelaran tersebut kembali memadukan tradisi budaya, spiritual, dan partisipasi masyarakat. Tahun ini, perayaan mengusung tema Cakra Manggilingan atau perputaran roda kehidupan.
Juru kunci Gunung Tidar, Imam Budi Prasetyo menyebut, antusiasme masyarakat, baik dari kalangan pegiat budaya maupun spiritual saban tahun terus meningkat. Tema yang diangkat kali ini dinilai memiliki bobot sakral yang kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Maknanya, kata dia, tentang kehidupan manusia yang terus berputar, kadang di bawah, kadang di atas. "Tapi yang utama adalah bagaimana manusia tetap bersyukur dalam setiap proses yang diberikan Tuhan," ujar dia di kediamannya, Rabu (10/6).
Rangkaian kegiatan dimulai melalui ritual pengambilan air suci dari tujuh mata air di wilayah Magelang. Air tersebut kemudian disatukan dalam satu wadah sebagai simbol penyucian dan penyeimbang energi, sebelum dibawa naik ke Gunung Tidar. Selain itu, ada berbagai pentas kesenian.
Pada Senin (15/6), sekitar 1.500 peserta diprediksi terlibat dalam kirab budaya yang menempuh rute sekitar satu kilometer mengelilingi kawasan Magersari. Mereka datang dari kalangan pelaku seni dan budayawan ambil bagian dalam arak-arakan tersebut.
Koordinator Gerebek Suro, Supiyah Wahyuningsih menjelaskan, pada puncak acara atau sekitar pukul 20.00, para peserta membawa empat gunungan, sembilan tumpeng, dan sembilan ingkung.
Baca Juga: Cemas! Warga Jogja Khawatirkan Efek Domino Kenaikan Harga Pertamax, Begini Katanya
Dia mengatakan, gunungan merupakan simbol utama kemakmuran dan hubungan manusia dengan alam. Dari empat gunungan yang dihadirkan, dua di antaranya merupakan gunungan utama berisi hasil bumi.
Sementara dua gunungan lainnya berasal dari partisipasi pihak luar. "Gunungan itu melambangkan kemakmuran dan wujud rasa syukur manusia kepada alam dan leluhur. Ini bagian dari bakti kita," jelasnya.
Sementara itu, sembilan tumpeng dan sembilan ingkung yang turut diarak memiliki makna filosofis yang lebih dalam. Angka sembilan merujuk pada kesempurnaan dan arah kehidupan, sekaligus dikaitkan dengan simbol Wali Songo dalam tradisi Jawa-Islam.
Ingkung sendiri, lanjut Supiyah, berasal dari kata manekung atau sikap berserah dan berdoa kepada Tuhan. Hal ini mencerminkan ajaran agar manusia senantiasa rendah hati dan memanjatkan doa dalam setiap kondisi.
Di puncak Gunung Tidar, dilakukan ritual utama berupa doa bersama, penyatuan air suci, serta penyampaian wejangan atau pesan moral. Pesan-pesan yang disampaikan dalam ritual tersebut merupakan hasil perenungan mendalam yang dilakukan secara spiritual oleh para sesepuh.
Dia menjelaskan, Gunung Tidar selama ini memiliki nilai spiritual yang kuat dalam tradisi Jawa. Selain dikenal sebagai titik paku tanah Jawa, kawasan ini juga diyakini berkaitan dengan tokoh-tokoh spiritual seperti Syekh Subakir, Kiai Sepanjang, dan Eyang Ismoyo atau Semar, yang dianggap sebagai simbol kebijaksanaan.
Karena itu, Supiyah menambahkan, gerebek Suro tidak hanya menjadi agenda budaya dan agenda rutin tahunan. Tetapi juga magnet spiritual yang menarik kehadiran masyarakat dari berbagai daerah, bahkan luar Jawa, untuk melakukan ritual ngalap berkah. (aya)
Editor : Heru Pratomo