MAGELANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang menghelat lomba seni budaya, 5-7 Juni 2026. Perhelatan ini menjadi ruang ekspresi bagi pelajar hingga kelompok seni. Mereka tampil bergantian dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Kepala Bidang Kebudayaan, Disdikbud Kota Magelang Triadi Yuliantono menuturkan, ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang untuk menguji sekaligus merawat keberlanjutan seni budaya lokal.
"Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak muda tetap mau belajar, tampil, dan bangga dengan budaya sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Mufli Hidayat Dirumorkan Jadi Target Transfer PSS Sleman
Selama ini, menurut Triadi, tantangan pelestarian budaya tidak lagi terletak pada kurangnya wadah, melainkan pada menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap seni tradisi. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa lagi bersifat formal semata, tetapi harus memberi ruang ekspresi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut terlihat dari variasi lomba yang tidak hanya menampilkan seni tradisional, tetapi juga memberi tempat bagi kreasi baru seperti festival band pelajar. Upaya ini menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas agar seni tetap hidup dan berkembang.
Wakil Wali Kota Magelang Sri Harso menyebut, peringatan Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi refleksi tentang arah pembangunan kota, termasuk di bidang kebudayaan.
Baca Juga: Dirut PSIM Jogja Liana Tasno Berharap Derby DIJ Digelar dengan Penonton
Menurutnya, pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kekuatan identitas budaya yang dimiliki masyarakatnya. "Seni dan budaya menjadi bagian penting karena di situlah nilai, karakter, dan kebersamaan tumbuh," katanya.
Dia menambahkan, seni memiliki fungsi sosial yang sering kali tidak terlihat secara langsung. Tetapi berdampak besar dalam kehidupan masyarakat, mulai dari membangun empati hingga mempererat hubungan antarwarga.
Di sisi lain, kegiatan seperti ini juga membuka ruang interaksi lintas generasi. Pelaku seni senior, pelajar, hingga masyarakat umum bertemu dalam satu ruang yang sama, saling belajar dan berbagi pengalaman. (aya)