JOGJA - Jogjakarta tidak lepas dari tantangan meski memiliki predikat sebagai kota seni dan budaya. Salah satunya dalam hal pengembangan seni tari kontemporer. Sebab, ini diketahui masih menghadapi sejumlah kendala seperti minimnya pendanaan.
Seniman tari kontemporer Bimo Wiwohatmo mengatakan, ada tiga kendala utama yang dihadapi seniman tari kontemporer. Utamanya terkait dengan ekonomi seni yang masih rapuh karena minimnya pendanaan.
Bimo menyebut, sampai saat ini banyak pelaku seni tari sangat bergantung pada hibah, sponsor bahkan dana pribadi untuk berekspresi. Sehingga membuat produksi karya tidak konsisten.
Kedua, terkait dengan kendala minimnya infrastruktur presentasi seni tari kontemporer yang terbatas. Menurutnya sampai saat ini belum ada ruang ekspresi yang bisa mendukung pagelaran seni tari kontemporer secara berkelanjutan.
“Frekuensi ruang presentasi masih sangat sangat terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah seniman yang bertumbuh dan berkembang,” ujar Bimo saat menggelar jumpa pers di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Senin (18/5/2026).
Selain dua permasalahan tersebut, dokumentasi seni tari kontemporer yang masih sangat minim juga menjadi persoalan para seniman.
Kehadiran dokumentasi baik itu dalam bentuk audio visual maupun tulisan menjadi salah satu dasar agar para seniman berkembang dan semakin dikenal.
Terlepas dari berbagai permasalahan itu, Bimo menegaskan Jogjakarta tidak pernah kekurangan talenta maupun gagasan. Tantangannya hanya pada ekosistem yang belum maksimal untuk mendukung seniman tari kontemporer berkembang.
Sebagai wujud ekspresi, sejumlah seniman tari kontemporer pun berencana menggelar Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi. Kegiatan tersebut dijadwalkan terlaksana pada Rabu (20/5/2026) di TBY pukul 19.30.
Forum tersebut nantinya akan menjadi tempat berkumpulnya para pelaku seni tari kontemporer. Sekaligus pementasan karya tiga generasi umur.
Untuk generasi 40-an berjudul Di Atas Irama Dua karya Besar Widodo, lalu generasi 30-an berjudul Ngluru Lurung karya Galih Puspita, sementara generasi 20-an dipentaskan oleh Eka Lutfi Febryanto dengan karya Sangkar Sunyi yang Bernyawa.
“Melalui pertemuan lintas generasi ini kita belajar bahwa seni bukan hanya warisan, tetapi juga kesinambungan yang terus hidup,” jelasnya.
Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya Dinas Kebudayaan DIY Cerrya Wuri Waheni memastikan berkomitmen untuk mendukung seni tari kontemporer.
Baca Juga: Harga LPG Non Subsidi Terus Mengalami Kenaikan, Agen Sebut Efek Dolar AS Tembus Rp 17 Ribu
Termasuk fasilitasi TBY agar tidak hanya sebagai ruang ekspresi pelaku seni. Namun juga sebagai wadah regenerasi dan ruang perjumpaan kreatif.
“Kami berharap melalui Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi lahir pertukaran gagasan dan pengalaman yang mampu memperkaya perkembangan seni tari kontemporer di Indonesia," katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita