MUNGKID - Terminal Secang berubah menjadi panggung budaya pada Sabtu (2/5) malam. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka pertukaran budaya antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Karanganyar.
Sejak sore, warga mulai berdatangan ke lokasi. Area terminal dipenuhi penonton dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Pagelaran wayang kulit menghadirkan dalang KRA H Gunarto Talijenoro dengan lakon Kisah Cinta Wilutomo.
Pementasan ini tidak hanya menyuguhkan cerita klasik, tetapi juga dikemas dengan sentuhan hiburan modern melalui selingan lawak dari komedian Kirun, Marwoto, dan Kadir, yang beberapa kali memancing gelak tawa penonton di tengah alur cerita.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, pagelaran ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang interaksi budaya antar daerah. Menurutnya, pertukaran budaya memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai lokal di tengah arus modernisasi. "Budaya itu bukan hanya dipentaskan, tapi dipertemukan. Ada nilai, gagasan, dan jati diri yang saling bertukar di sini," ujarnya.
Dia juga menyinggung kekayaan budaya yang dimiliki kedua daerah. Kabupaten Magelang dengan warisan sejarah seperti Borobudur serta tradisi masyarakat di kawasan pegunungan. Sementara Karanganyar dikenal dengan akar budaya yang kuat dari kawasan Gunung Lawu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang Wisnu Argo Budiyono menjelaskan, hingga kini program tersebut telah diikuti oleh 19 sekolah.
Baca Juga: Partai Ummat Konsolidasi Nasional di Sleman, Targetkan Menang Pemilu 2029 dan Gunakan Teknologi AI
Dia pun menekankan pentingnya integrasi antara pendidikan dan kebudayaan dalam proses pembelajaran. "Belajar tidak hanya di kelas. Budaya bisa menjadi media pembelajaran yang membentuk karakter sekaligus memberi pengalaman yang menyenangkan," katanya.
Perwakilan kelompok seni Wanito'Mbok Karanganyar Dyna Putri melihat kegiatan ini sebagai peluang memperluas kolaborasi lintas daerah. Dia menilai, pertukaran budaya tidak hanya berdampak pada pelestarian seni, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil.
"Kalau kegiatan seperti ini rutin digelar, dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk UMKM," bebernya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo