Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yani Saptohoedojo, Tak Ada Kata Pensiun untuk Kemajuan Seni Indonesia

Delima Purnamasari • Senin, 20 April 2026 | 21:46 WIB
TAK ADA PENSIUN: Yani Saptohoedojo mengaku seluruh umurnya untuk kemajuan dunia seni. Baginya, seorang seniman tidak ada kata pensiun. Istri mendiang Saptohoedojo ini pun masih enerjik di usia 72 tahun. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
TAK ADA PENSIUN: Yani Saptohoedojo mengaku seluruh umurnya untuk kemajuan dunia seni. Baginya, seorang seniman tidak ada kata pensiun. Istri mendiang Saptohoedojo ini pun masih enerjik di usia 72 tahun. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

GALERI Saptohoedojo di Jalan Raya Jogja-Solo, Maguwoharjo, Depok, Sleman tampak berbeda pada Jumat (17/4) malam. Terlihat banyak perempuan mengenakan pakaian tradisional kebaya maupun lurik. Semuanya tampak berseri merayakan pembukaan pameran lukisan bertajuk "Kartini dan Perempuan-Perempuan Mataram". Acara yang digelar hingga Rabu (22/4) diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kartini, 21 April.

Total ada 42 karya yang ditampilkan di galeri ini milik 21 perupa perempuan. Di antaranya, Anik Indrayani dengan karyanya "My First Kebaya", Niken Indirawati dengan karyanya "Cah Angon", serta Ninik Purwanti yang membawa lukisan bertajuk "Bersolek".

Kegiatan pameran ini semakin ramai, lantaran tamu-tamu yang datang turut membacakan puisi hingga menyanyikan berbagai lagu. Seluruh acara yang meriah ini tak lepas dari kegigihan sang tuan rumah, Yani Saptohoedojo.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lukisan! 21 Seniman Perempuan Ungkap Makna Kartini yang Lebih Dalam

"Kami tampilkan pada Hari Kartini para pelukis perempuan dari Jogja dan Solo karena temanya Mataram. Semua harus memajukan perempuan," katanya saat ditemui Radar Jogja di sela-sela acara.

Baginya, pameran semacam ini penting karena menjadi ruang kebudayaan. Tidak hanya untuk menampilkan karya, tetapi menghadirkan jiwa, rasa, dan pemikiran perempuan dalam lintasan sejarah dan kehidupan.

Dalam falsafah Jawa, dia sebut perempuan bukan sekadar sosok biologis, melainkan pusat harmoni kehidupan. Kartini yang dipilih sebagai inspirasi utama pameran ini disebut menjadi simbol kesadaran perempuan yang melampaui zamannya.

Sosoknya disebut sebagai perempuan kuat yang menjaga nilai, budaya, dan martabat kehidupan. "Wanita iku weninging ati lan pancering urip. Ia adalah sumber keseimbangan, penjaga rasa, dan penggerak peradaban dalam sunyi maupun terang," katanya.

Suara Yani tetap gigih meski usianya sudah tak muda lagi, 72 tahun. Perempuan kelahiran Purwokerto, 25 November 1953 ini menegaskan, sejak dulu memang jatuh hati pada dunia seni, apa pun jenisnya. Mulai seni musik, seni tari, teater, wayang kulit, hingga wayang orang. Semua diakui dia sayangi dan ingin selalu bisa ditampilkan. "Kalau yang namanya seniman enggak ada namanya pensiun. Seumur hidup untuk seni," tegasnya.

Istri mendiang pelukis dan budayawan Saptohoedojo ini memang dikenal dalam keaktifannya membuka pameran seni di berbagai tempat. Termasuk membina berbagai organisasi perempuan, seniman, hingga kemanusiaan. Yani mengaku kegiatan semacam itu tidak pernah habis, bahkan di usia senjanya kini. "Memang waktunya habis untuk acara-acara seni. Hampir tiap hari enggak berhenti. Tiap hari ada aja," ujarnya.

Baca Juga: Menilik Peran Perempuan dalam Dunia Tosan Aji, 40 Keris yang Berkaitan dengan Kaum Hawa Dipamerkan di Grha Keris Kota Jogja

Berbagai capaian yang dia peroleh baginya karena ketegasan sikapnya untuk terus mandiri dan tidak memiliki ketakutan dalam bersaing. Baginya, perempuan dan laki-laki sama-sama bisa memiliki prestasi yang setara. Bahkan perempuan bisa lebih hebat karena bisa melakukan banyak tugas sekali waktu. Mulai dari mengurus rumah tangga, mendidik anak menjadi sosok yang hebat, hingga mendukung suami.

Meski demikian, perempuan yang dikenal selalu menyumbangkan pendapatnya untuk dunia seni ini mengaku masih ada mimpi yang belum tercapai. Hal ini adalah untuk membangun museum bagi seluruh karya mendiang suaminya di kediamannya itu.

Dia mengaku belum bisa memastikan kapan bisa merealisasikan mimpi itu. Harapannya bisa dilakukan segera. "Kebahagiaan saya selama ini adalah bisa terus memajukan seni di Indonesia," tambahnya. (del/laz) 

Editor : Herpri Kartun
#saptohoedojo #Solo #kartini #Pameran #Jogja