JOGJA - Selama ini, keris selalu identik sebagai simbol maskulinitas dan dunia laki-laki.
Namun, sebuah pameran pusaka yang digelar di Grha Keris Yogyakarta mencoba mendobrak stigma tersebut dengan mengangkat posisi perempuan dalam sejarah panjang tosan aji.
Pameran yang bertajuk Merintis Pewaris yang berlangsung dari tanggal 17 sampai 20 April 2026 ini secara khusus memamerkan sekitar 40 bilah keris yang memiliki keterkaitan erat dengan kaum hawa.
Menariknya, pameran ini tidak hanya menampilkan keris milik perempuan, tetapi juga karya dari para empu perempuan yang jejaknya terekam sejak era Kerajaan Pajajaran.
Kurator Pameran Taufiq Hermawan menjelaskan, sebenarnya keterlibatan perempuan dalam dunia keris bukanlah hal baru.
Dalam naskah-naskah lama, terdokumentasi ada nama-nama besar seperti Mbok Sombro, Empu Anjani, hingga Empu Roro Sombogo yang sudah bergelut dengan dunia tosan aji tersebut.
"Di beberapa naskah lama ada catatan keris-keris yang diciptakan oleh empu perempuan. Jejaknya bahkan sudah ada sejak masa Pajajaran sekitar tahun 1200-1300 Masehi," katanya, Sabtu (18/4/2026).
Meski begitu, menurut Taufiq, produk keris buatan perempuan itu biasanya memiliki karakteristik fisik yang berbeda dari buatan laki-laki.
Bentuknya cenderung lebih pendek dan sederhana seperti jenis Patrem atau Cundrik.
Secara fungsional, lanjut Taufiq, pada masa lalu keris-keris tersebut digunakan untuk kebutuhan spiritual kewanitaan, seperti sarana keselamatan saat proses melahirkan atau penolak bala.
Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari keris nasional ini, koleksi yang dipamerkan pun cukup beragam secara periodisasi.
Mulai dari keris kuno peninggalan era Pajajaran hingga karya empu modern atau kamardikan.
Baca Juga: Keunikan Corak Batik Parang Khas Yogyakarta, Simbol Keberanian dan Keteguhan Jiwa
"Bukankah menempa keris itu identik dengan laki-laki? Ternyata tidak. Garis-garis karyanya memiliki sentuhan khas perempuan, layaknya kita membedakan goresan tangan laki-laki dan perempuan dalam seni rupa," tuturnya.
Oleh karena itu, Taufiq berharap pameran ini bisa mengedukasi masyarakat, khususnya bagi para ahli waris perempuan yang seringkali merasa ragu atau takut saat menyimpan keris keluarga.
Menurutnya, sangat disayangkan, kecenderungan masyarakat saat ini ingin membuang keris peninggalan dengan alasan ketidaktahuan atau ketakutan akan hal mistis.
"Padahal di beberapa tradisi, seperti di Kediri, justru anak perempuan bungsu yang berhak merawat pusaka keluarga," tegasnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakhsmi Pratiwi menyebut tema Merintis Pewaris itu dipilih sebagai respons atas tantangan zaman yang membuat tradisi keris belum sepenuhnya dekat dengan generasi muda.
Sehingga harapannya, dari pameran ini lahir pewaris-pewaris baru yang memahami keris dari berbagai aspek dan nilai pentingnya.
"Tentu saja belajar tentang keris tidak semata hanya sebagai senjata, tetapi nilai-nilai tertib yang berada di balik keris, filosofi, historis yang di dalamnya menjadi bagian yang penting," cetusnya. (ayu)
Editor : Meitika Candra Lantiva