BANTUL - Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul mencatat jumlah kunjungan ke sejumlah museum di Kabupaten Bantul menurun dalam satu tahun terakhir.
Penurunan tersebut sebagian besar dipengaruhi efisiensi anggaran, sehingga sejumlah agenda yang biasanya mampu menarik wisatawan terpaksa ditiadakan.
Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Disbud Bantul Purwanto mengatakan, di Bantul terdapat 17 museum yang tergabung dalam Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB).
Dari jumlah tersebut, sepuluh museum mengalami penurunan kunjungan, empat museum mengalami kenaikan, dan tiga lainnya merupakan museum baru pada 2025.
Baca Juga: Bentuk 'Sih Katresnan', Sultan HB X Kembalikan Hadiah Hasil Bumi kepada Masyarakat
Museum yang mengalami penurunan cukup signifikan di antaranya Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto.
Pada 2024, jumlah kunjungan mencapai 66.919, sedangkan pada 2025 turun menjadi 62.088 kunjungan.
Selain itu, Museum Wayang Beber Sekartaji juga mengalami penurunan, dari 3.958 kunjungan pada 2024 menjadi 1.990 kunjungan pada 2025.
“Ada Museum Wayang Kekayon Yogyakarta di tahun 2024 kunjungan 1.421, 2025 turun menjadi 364,” bebernya Kamis (2/4/2026).
Selain efisiensi anggaran, kebijakan larangan study tour oleh Gubernur Jawa Barat juga turut memengaruhi penurunan jumlah kunjungan museum di Bantul.
Sebab, kata dia, wisatawan yang ke Jogja salah satunya juga berkunjung ke museum.
“Penurunan dipengaruhi juga ada yang dari internal museum, ada yang minim dalam menyelenggarakan event mandiri, karena keterbatasan dana,” katanya.
Mengatasi hal tersebut, Disbud Bantul berupaya meningkatkan kembali jumlah kunjungan dengan mengoptimalkan berbagai kegiatan promosi museum.
“Kegiatannya seperti lomba cerdas cermat museum, wajib kunjung museum, dan fasilitas komunitas museum,” terangnya.
Selain itu, Disbud Bantul juga menggelar kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola museum melalui diskusi maupun talk show dengan melibatkan seluruh pengelola museum di Bantul.
Ia juga mengajak generasi muda untuk berkunjung ke museum. Menurutnya, museum merupakan jendela masa lalu yang dapat memberikan pemahaman tentang sejarah.
“Harapannya masyarakat yang telah mengikuti wajib kunjung museum bisa mengajak teman atau keluarganya untuk kembali lagi ke museum,” harapnya.
Sementara itu, Pemilik Museum Wayang Beber Sekartaji Indra Suroinggeno mengatakan, penurunan jumlah kunjungan ke museum yang ia kelola memang dipengaruhi efisiensi anggaran. Akibatnya, berbagai kegiatan yang mampu menarik pengunjung menjadi berkurang.
“Contohnya wajib kunjung museum di Bantul tetap, kalau dengan Jogja dikurangi jumlahnya, terus kegiatan yang bersifat permuseuman jelas dikurangi,” jelasnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia bersikap proaktif dan tidak hanya bergantung pada pemerintah dalam meningkatkan jumlah kunjungan.
Pihaknya menjalin kerja sama dengan pihak Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menggelar berbagai acara di museum, serta menggandeng perguruan tinggi agar ada kegiatan pengabdian masyarakat di wilayahnya.
Selain itu, pihaknya juga mengembangkan Desa Wisata Pancasila dengan mengangkat keunggulan museum sebagai daya tarik utama.
“Akhirnya kami harus berevolusi sendiri,” pungkasnya. (cin/wia)
Editor : Herpri Kartun