Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswi ISI Jogja Laksmi Alysia Azzahra dan Eksperimennya Menari di Udara, Terinspirasi Bayi dalam Kandungan

Cintia Yuliani • Kamis, 26 Maret 2026 | 07:25 WIB

 

 

Laksmi Alysia Azzahra, Mahasiswa ISI Jogja dan  Eksperimennya Menari di Udara   
Laksmi Alysia Azzahra, Mahasiswa ISI Jogja dan  Eksperimennya Menari di Udara  

 

 

 

Biasanya tarian dipentaskan di atas lantai panggung. Namun bagi Laksmi Alysia Azzahra, mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Tari, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini, panggungnya justru berada di udara.

Mahasiswi berusia 20 tahun itu mencoba menghadirkan karya tari dengan cara berbeda. Ia menarikan gerakan tari menggunakan sling atau flying rig, sebuah alat yang membuat tubuhnya melayang di udara. Melalui alat itu, ia mengeksplorasi gerak tari yang tidak lagi bertumpu pada lantai.

“Tarian tentang bayi dalam kandungan itu. Terus aku dapat dari riset kan bayi dalam kandungan mengapung dalam air ketuban,” ujarnya saat ditemui, Senin (16/3).

Dari hal itu ia mulai memikirkan bagaimana konsep mengapung bisa diterjemahkan dalam sebuah karya tari. Menurutnya, bayi dalam kandungan berada dalam ruang terbatas namun tetap bergerak dengan keseimbangan tertentu.

"Terus aku tertarik dengan mengapungnya. Gimana mengapung itu bisa dibawa dalam tarian karyaku ini,” katanya.

Ide penggunaan sling muncul ketika ia bergabung dengan teman-temannya di sebuah komunitas bernama Freedom Art Stunt. Di tempat itu ia melihat adanya alat flying rig yang biasa digunakan untuk aksi melayang. "Terus kan belajar dan main di sana, sharing-sharing. Akhirnya nemu ide,” ujarnya.

Dari situlah ia mencoba memadukan konsep bayi dalam kandungan dengan gerakan tari di udara. “Karena emang pengen cari apa yang mendekati sama mengapung itu tadi. Karena mengapung dalam kandungan tuh antara keseimbangan sama batasan ruang,” jelasnya.

Dalam karya tersebut, Laksmi tidak sekadar menggunakan alat. Ia juga harus menciptakan sendiri gerakan tari yang sesuai dengan karakter sling.

"Gerakannya bikin sendiri. Jadi nyoba eksplorasi gerak pake sling itu. Karena rasanya tuh beda banget, nari napak di lantai sama di udara itu beda banget,” katanya.

Laksmi Alysia Azzahra, Mahasiswa ISI Jogja dan  Eksperimennya Menari di Udara
Laksmi Alysia Azzahra, Mahasiswa ISI Jogja dan  Eksperimennya Menari di Udara

Awalnya ia mencari referensi melalui Instagram. Dari sana ia mempelajari teknik dasar penggunaan sling, terutama karena gerakan yang dilakukan harus melawan gravitasi. Ia juga mempelajari berbagai teknik putaran, termasuk posisi kaki yang tepat agar gerakan dapat dilakukan dengan aman dan seimbang.

 

Setelah memahami teknik dasar, ia kembali pada konsep awal. Gerakan tari kemudian diolah berdasarkan tiga fase trimester perkembangan bayi dalam kandungan.

"Aku ngambilnya tiga fase trimester gitu. Misalnya satu, dua, tiga itu ada apa aja aku pilih, terus aku coba waktu pake sling,” jelasnya.

Proses latihan pun tidak mudah. Ia harus berlatih hampir setiap hari selama kurang lebih dua bulan untuk menyesuaikan tubuh dengan gerakan melayang. "Hampir tiap hari, tiga sampai empat jam. Kadang dua sesi juga, siang sama malam,” katanya.

Latihan dengan sling memberikan sensasi yang jauh berbeda dibandingkan menari di lantai. Putaran di udara sering membuat tubuhnya pusing, bahkan mual. "Kadang kalau belum tahu tekniknya, kebanting atau kepentok lantai,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengaku proses adaptasi perlahan membuat tubuhnya terbiasa. Latihan tidak selalu dilakukan di ruang pertunjukan. Ia sering memanfaatkan tempat kosong di kampus, bahkan parkiran.

“Sebenarnya butuh tinggi empat meter, tapi karena terbatas ya pakai yang ada,” katanya.

Karya tari yang ia buat masuk dalam kategori tari eksperimental. Bagi Laksmi, karya tersebut tidak sepenuhnya menitikberatkan pada makna tertentu, melainkan eksplorasi kemungkinan gerak.

Tarian itu adalah salah satu dari tugas mata kuliahnya di semester empat ini. Meskipun tugas mata kuliah, ia tetap melakukannya dengan maksimal. Sehingga menghasilkan karya berbeda dari yang lain. Yakni menari di atas udara.

Baca Juga: Lampaui Target, Gunungkidul Raup Rp 2,8 Miliar PAD Pariwisata Selama Libur Lebaran

“Aku dari kecil suka banget sama nari. Dari TK aku udah mulai nari,” katanya.

Ketertarikan itu kemudian ia lanjutkan hingga menempuh pendidikan di SMK 12 Surabaya yang berbasis seni. Sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di ISI Jogjakarta.

Kini ia justru semakin menikmati proses riset dalam tari, terutama di ranah kontemporer dan eksperimental. "Lebih suka yang kayak gitu. Asyik risetnya itu. Eksperimental, seru banget,” ujarnya. (laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#ISI Jogjakarta #menari #Freedom #bayi dalam kandungan #udara #mahasiswi #art