Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Nglangse, Tradisi Warga Gunungkidul sebagai Wujud Syukur pada Alam

Magang Radar Jogja • Senin, 16 Februari 2026 | 13:07 WIB

Nglangsé Wrêksa Santênan (Nandur/Youtube)
Nglangsé Wrêksa Santênan (Nandur/Youtube)
Nglangse menjadi tradisi yang masih dilestarikan masyarakat di daerah Gunungkidul Yogyakarta sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya menjaga kelestarian alam.

Nglangse merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mirip dengan tradisi saput poleng di Bali, ritual khas di Daerah Istimewa Yogyakarta ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap pohon-pohon besar yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Tradisi Nglangse ini menjadi wujud rasa syukur kepada alam atas manfaat yang diberikan bagi seluruh makhluk hidup.

Pelaksanaan Nglangse biasanya dilakukan setelah musim panen sebagai simbol penghormatan atas hasil bumi.

Nglangse berasal dari kata “Langse” berarti menutup. Dalam tradisi ini, masyarakat memasangkan kain putih pada pohon besar yang dikenal dengan sebutan pohon “Resan”.

Istilah resan berasal dari kata “reksa” atau “wreksa” yang berarti menjaga atau melindungi. Pohon resan ini biasanya merujuk pada jenis pohon beringin, trembesi, randu, asem, gayam, bulu, kepuh, dan pohon berukuran raksasa lainnya.

Pohon resan yang dipilih bukan sebagai tanaman yang dibudidayakan untuk kepentingan ekonomi atau diambil kayunya.

Pohon ini justru ditanam, dirawat, dan dijaga hingga tumbuh besar agar berfungsi sebagai penyangga ekosistem. Pohon-pohon berukuran besar tersebut berperan menjaga debit serta kualitas mata air, melindungi struktur tanah, dan menyerap karbon dari udara.

Tradisi Nglangse biasanya melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Pesertanya berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari Komunitas Resan Gunungkidul, para sesepuh desa, juru kunci, kepala dusun, hingga warga sekitar.

Rangkaian Prosesi Nglangse

Acara Nglangse dimulai dengan kenduri yang dilaksanakan di rumah kepala dusun setempat.

Setelah itu, masyarakat membawa makanan hasil kenduri menuju lokasi yang akan digunakan untuk prosesi Nglangse.

Selanjutnya, warga bersama-sama melakukan gotong royong membersihkan Telaga sebagai bagian dari rangkaian kegiatan bersih dusun.

Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, prosesi dilanjutkan dengan peletakan sesajen dan pembakaran kemenyan di bawah pohon besar.

Prosesi tersebut dipimpin oleh juru kunci bersama para sesepuh desa yang memanjatkan doa, tujuan dari prosesi ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada alam serta makhluk hidup yang berdampingan dengan manusia.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kehidupan di dunia tidak dijalani sendiri, tetapi berdampingan dengan makhluk lain, sehingga penting untuk menjaga keharmonisan.

Setelah ritual tersebut, seluruh masyarakat yang hadir mengikuti doa bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama atau yang biasa disebut tambul.

Memasuki puncak acara, dilakukan prosesi pemasangan kain putih pada pohon, prosesi ini dipimpin langsung oleh juru kunci disertai pembacaan doa dan harapan agar pohon tersebut senantiasa menjadi simbol penjaga kelestarian alam serta membawa keselamatan bagi masyarakat sekitar.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan nglangse, warga kemudian melakukan penanaman bibit pohon baru. Penanaman ini menjadi simbol untuk terus merawat dan melestarikan lingkungan.

Penulis: Lutfiyah Salsabil

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #alam #Gunungkidul #Nglangse