JOGJA- Seniman yang tergabung dalam Keluarga Besar Tamansiswa Yogyakarta menggelar pameran seni rupa dengan tajuk 'Salam dan Bahagia' di Galeri Museum Sonobudoyo, Jogja. Ratusan karya yang dipajang merupakan pemaknaan dari Salam Bahagia, buah pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam menyuarakan kesejajaran.
Kurator Pameran Hajar Pamadhi mengatakan para pelukis ini menerjemahkannya berdasarkan imajinasi. Mereka kemudian mengangkat objek material maupun formal untuk mencapai keselarasan antara gagasan dan ekspresiya.
"Karya-karya semakin menunjukkan kesederajatan mutu jika dilihat dari ide dan pencapaian momen estetiknya," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (24/12).
Ada 4 pola representasi sebagai dasar penampilan dari seluruh karya yang dipamerkan.
"Karya seni bagi seorang seniman merupakan hasil refleksi keindahan antara objek – seniman," tandasnya.
Pola pertama Salam dan Bahagia sebagai objek formal, sehingga para seniman menerjemahkan kebahagiaan menjadi karya realis. Kemudian Salam dan Bahagia menumbuhkan ide objek, para seniman membayangkan kebahagiaan di dunia maupun di ruang lain dengan karya seni lukisnya.
"Mereka menampilkan dalam berbagai gaya dekoratifisme, ekspresionisme dan impresionisme," paparnnya.
Baca Juga: UMP DIY 2026 Naik Rp 153 Ribu, Segini Besaran Kenaikan di Masing-Masing Kabupaten Kota: Buruh Nilai Masih Jauh dari Hidup Layak
Keempat, para seniman melambungkan pikiran tentang salam maupun bahagia. Imajanisi tentang kebersamaan dalam salam maupun bahagia kemudian dikemas ulang dalam rasa, menghasilkan karya yang ekspresif, maupun imajinatif. Beberapa diantaranya menjadi abstrak ekspresionistik dan di sisi lain menghadirkan impresif eksprresionistik.
"Seluruh karya merupakan pemaknaan dari Salam dan Bahagia berdasarkan rasa masing-masing perupa," jelasnya.
Ketua Panitia Pameran FX. Supriyono menambahkan melalui pameran tersebur pendidikan seni rupa Sarjanawiyata diharapkan bisa ditekankan pada kemampuan visualnya atau skill, bukan hanya sekedar teori. Kegiatan pameran alumni dan mahasiswa Seni Rupa UST merupakan upaya pengenalan karya lintas zaman dan generasi.
Baca Juga: Sudah Dianggarkan, Pesta Kembang Api di Alun-Alun Kota Magelang Tergantung Daerah Lain
"Karya-karya yang dihadirkan menjadi bukti bahwa seni tidak memaksa keseragaman, melainkan merawat keberagaman ekspresi dalam bingkai nilai kebudayaan dan kemanusiaan," jelasnya.
Pameran tersebut berlangsung selama sembulan hari sejak 22 hingga 30 Desember 2025. (oso)