Alunan musik keroncong mengisi malam di kawasan Taman Lumbini, Candi Borobudur, saat Indonesia Keroncong Festival 2025 digelar dalam rangkaian Borobudur Moon. Di bawah langit malam yang tenang, ribuan pasang mata tertuju ke panggung, menikmati sajian musik yang berpadu dengan kemegahan situs warisan dunia.
Sejak awal pertunjukan, suasana terasa hidup. Penonton tampak larut mengikuti irama, sebagian mengangguk pelan mengikuti tempo musik, sementara lainnya merekam momen dengan ponsel atau bertepuk tangan setiap kali penampilan usai.
Lampu panggung yang temaram berpadu dengan siluet Candi Borobudur menciptakan atmosfer intim sekaligus megah, menjadikan konser malam itu lebih dari sekadar pertunjukan musik. Sejumlah musisi lintas genre tampil bergantian menghidupkan panggung.
Baca Juga: Tim Hockey UAJY Raih Juara 2 dan 3 Di Gadjah Mada Hockey Festival 2025
Kunto Aji menyuguhkan interpretasi keroncong dengan sentuhan modern yang membuat penonton terpikat, disambut sorak dan tepuk tangan panjang. Citra Scholastika tampil dengan vokal yang kuat namun lembut, membawa nuansa klasik yang akrab di telinga.
Ketua Indonesia Keroncong Festival 2025, Didik Haryadi mengatakan, tema Serenade Nusantara dipilih sebagai simbol penghormatan sekaligus perayaan terhadap keragaman musik keroncong di Indonesia. Menurutnya, keroncong tidak hadir dari satu wilayah saja, melainkan tumbuh dan berkembang di berbagai penjuru Nusantara.
Bahkan, kata dia, pemilihan Borobudur sebagai venue bukan tanpa makna. "Ini adalah bentuk penghormatan sekaligus simbol bagaimana pengembangan pariwisata dan kawasan bisa berjalan harmonis, seperti musik," ujar Didik, Selasa malam (16/12).
Baca Juga: Persoalan Sampah Masih Menjadi Pekerjaan Rumah di Gunungkidul! DLH Sebut Ibu-ibu PKK Jadi Motor untuk Pengolahan
Dia menambahkan, festival ini diharapkan memberi manfaat nyata bagi pengembangan kawasan dan memperkuat posisi Borobudur sebagai panggung budaya kelas dunia.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai, gelaran Indonesia Keroncong Festival 2025 menjadi sesuatu yang berbeda dan istimewa. Pentas musik keroncong yang digelar di malam hari. Meski bukan saat purnama, dengan latar Candi Borobudur, menurutnya menghadirkan pesan yang kuat dan prestisius.
Menurutnya, keroncong bukan hanya musik untuk dinikmati, tetapi juga untuk dihayati. Dia menyebut, keroncong sebagai serenade yang menyatukan hati dari Sabang sampai Merauke. "Di dalam setiap nadanya ada jiwa, sejarah, dan keragaman Indonesia,” kata Grengseng.
Baca Juga: Road to Wembley: Chelsea Lolos ke Semifinal Usai Susah Payah Bungkam Cardiff
Dia menegaskan, festival ini merupakan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan musik keroncong agar tetap hidup di tengah generasi muda dan semakin dikenal di tingkat internasional.
Grengseng juga menyoroti kekayaan budaya Kabupaten Magelang yang tidak hanya terletak pada Candi Borobudur. Tetapi juga pada seni pertunjukan, tarian, kuliner tradisional, hingga keramahan masyarakatnya.
"Budaya dan pariwisata adalah dua hal yang saling menguatkan. Keroncong harus terus bergema, tidak berhenti di sini, tetapi menjangkau dunia," ujarnya.
Baca Juga: Delapan Dapur MBG di Gunungkidul Tutup Sementara, Sekitar 16 Ribu Penerima Terdampak
Dia pun mengajak para pengunjung untuk menjelajahi sudut-sudut Kabupaten Magelang, dari perbukitan Menoreh hingga kuliner khas daerah, setelah menikmati pertunjukan malam itu.
Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) Agustin Peranginangin mengatakan, malam Indonesia Keroncong Festival 2025 sebagai peristiwa yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat nilai sejarah dan budaya. Dia mengaku bangga dapat menyambut para penonton di kawasan Borobudur dalam edisi spesial Borobudur Moon tersebut.
Baca Juga: Lakukan Hubungan Sesama Jenis di Toilet Masjid, Guru ASN di Daerah Padang Ini digerebek Petugas Keamanan
Tema Serenade Nusantara, menurut Agustin, menjadi ekspresi penghormatan terhadap keragaman budaya Indonesia. Dia menyebut, Indonesia Keroncong Festival sebagai tonggak penting dalam upaya mengusulkan musik keroncong sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO, proses yang saat ini tengah berjalan.
"Keroncong memiliki karakter yang khas, memadukan keindahan alam, cinta kasih antarsesama manusia, hubungan manusia dengan alam, hingga pengabdian kepada Tuhan," katanya. (pra)