Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Upacara Ruwatan, Ritual Sakral Penolak Bala Dalam Budaya Jawa

Magang Radar Jogja • Jumat, 12 Desember 2025 | 01:10 WIB

Tradisi ruwatan
Tradisi ruwatan
Tradisi mistis upacara ruwatan di Jawa masih dipertahankan hingga kini sebagai bentuk ritual sakral untuk menolak bala dan menjaga keselamatan.

Upacara ini diyakini mampu membebaskan seseorang, terutama anak-anak, dari kesialan atau malapetaka yang dipercaya dapat datang akibat kelahiran atau kejadian tertentu.

Ruwatan umumnya dilakukan untuk anak-anak yang masuk kategori sukerto, seperti anak tunggal, anak kembar, atau anak yang lahir pada waktu tertentu seperti saat matahari terbit atau tenggelam.

Dalam tradisi Jawa, mereka dianggap rawan terkena gangguan atau kesialan sehingga perlu diruwat agar terhindar dari ancaman Batara Kala, sosok mitologis yang dipercaya memakan orang-orang tertentu.

Ruwatan berasal dari cerita pewayangan, khususnya cerita tentang Batara Kala. Menurut legenda, Kala lahir dari air mani Batara Guru yang jatuh ke dalam samudera.

Dari situ muncul sosok raksasa yang sangat lapar dan meminta makanan berupa manusia.

Untuk menangkal itu, Batara Guru memberikan syarat: Kala hanya boleh memangsa orang-orang tertentu yang dianggap suka makan daging manusia, seperti anak tunggal.

Sejak saat itu, masyarakat Jawa percaya bahwa anak-anak tertentu harus menjalani upacara ruwatan agar tidak terkena ancaman dari Kala.

Prosesi ruwatan melibatkan berbagai sajen, pertunjukan wayang kulit dengan lakon khusus seperti Murwakala, serta prosesi penyucian yang dipimpin oleh dalang atau tokoh spiritual.

Upacara ini tidak hanya menjadi simbol penyucian diri, tetapi juga sarana untuk menata kembali keseimbangan hidup secara spiritual dan sosial.

Pelaksanaan melakukan ruwatan berbeda-beda tergantung pada jenis keburukan atau musibah yang diyakini mengenai seseorang. Berikut adalah langkah-langkah umum dalam melakukan ruwatan:

1.Penentuan Waktu dan Tempat: Ruwatan biasanya diadakan pada hari-hari tertentu yang dianggap baik sesuai dengan kalender Jawa, seperti pada bulan Suro (Muharram) atau pada saat-saat yang memiliki makna spiritual tertentu.

2.Persiapan Ritual: Termasuk menyiapkan tempat, sesaji, dan peralatan yang dibutuhkan. Sesaji umumnya berupa makanan, bunga, serta barang-barang lain yang memiliki arti khusus.

3.Upacara Inti: Bagian ini melibatkan pembacaan doa dan mantera oleh seorang dalang atau pemimpin ritual. Wayang kulit sering digunakan dalam ruwatan, di mana cerita pewayangan yang menyampaikan makna pembebasan dan penyucian dipertunjukkan.

4.Pembersihan Diri: Orang yang menjalani ruwatan akan melakukan beberapa ritual pembersihan, seperti mandi dengan air yang sudah diucapkan doa-doa, serta memotong rambut atau bagian tubuh lain yang dianggap sebagai tempat menampung energi negatif.

5.Penutup: Setelah acara utama selesai, dilakukan berbagai doa penutup dan pemberkahan oleh tokoh yang memimpin ritual. Orang yang menjalani ruwatan kemudian diberikan sesajen sebagai tanda penerimaan berkah dan hasil pembersihan.

6.Syukuran: Acara biasanya ditutup dengan upacara syukuran atau kenduri, di mana makanan yang sudah disiapkan dibagikan kepada semua orang yang hadir sebagai bentuk rasa terima kasih atas keberhasilan pelaksanaan ruwatan.

Penulis: Ocha

Editor : Bahana.
#ruwatan