Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Literasi Budaya, Pameran Keris di FTIK UIN Sunan Kalijaga Dipadati Mahasiswa

Magang Radar Jogja • Jumat, 28 November 2025 | 00:18 WIB

 

Workshop Pembuatan dan Pameran Keris di UIN Sunan Kalijaga
Workshop Pembuatan dan Pameran Keris di UIN Sunan Kalijaga

Kecintaan terhadap keris kian tumbuh di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Hal ini tampak dalam gelaran Workshop Pembuatan Keris dan Pameran Keris yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dalam rangka memperingati Hari Keris Dunia.

Sejak dibuka pada Selasa lalu, acara ini menarik perhatian para penggemar keris dari lingkungan kampus hingga komunitas perkerisan Yogyakarta.

Sekitar 41 jenis keris dipamerkan, mulai dari koleksi akademisi UIN, kerabat Keraton Yogyakarta, hingga para pegiat keris.

Para mahasiswa, khususnya yang memiliki minat besar terhadap budaya Jawa, tampak antusias mengikuti rangkaian acara sejak pembukaan yang dihadiri perwakilan Keraton Yogyakarta, Dinas Pendidikan, para dosen, dan tamu undangan lainnya.

Menurut panitia, Rachmat, kegiatan ini selaras dengan semangat mahasiswa FITK yang akhir-akhir ini semakin terbuka terhadap budaya tradisi, termasuk dunia perkerisan.


“Acara ini untuk uri-uri budaya Jawa, sekaligus memperingati Hari Keris Dunia yang sudah diakui UNESCO sejak 2005,” ujarnya Rabu (26/11).

Workshop yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan serta para ahli keris ini memperkenalkan proses pembuatan keris serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Andi, salah satu pakar perkerisan yang hadir, menjelaskan bahwa keris yang dipamerkan memiliki bentuk dan karakter berbeda-beda.


“Yang dipamerkan ada 41 macam keris besar. Koleksinya dari akademisi, kerabat keraton, dan para pegiat keris di Yogyakarta,” jelasnya.

Ia menambahkan, meningkatnya ketertarikan mahasiswa terhadap keris menjadi momentum penting untuk memperluas literasi budaya.


“Harapannya generasi muda memahami keris bukan hanya dari sisi mistis, tetapi juga metalurgi, estetika, sejarah, dan filosofi,” tambahnya.

Rachmat menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman baru tentang keris di kalangan generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda yang masih menganggap keris hanya sebagai jimat atau benda kuno.


“Kami di Fakultas Tarbiyah mendidik calon guru. Minimal nanti ketika mereka jadi pendidik, mereka tidak membenci keris. Syukur-syukur mencintai dan ikut melestarikannya,” katanya.


Ia menekankan bahwa keris adalah simbol jati diri yang layak dirawat sebagaimana batik.

Sementara itu, Andi menambahkan bahwa pelestarian keris harus berjalan seiring perkembangan zaman.


“Keris harus dikembangkan sesuai selera zaman tanpa meninggalkan kaidah dasarnya. Dengan begitu keris lama dan keris baru bisa hidup berdampingan,” ujarnya.

Bagi para penggemar keris di lingkungan FITK, workshop ini menjadi ruang belajar sekaligus ajang berbagi minat.

Tak sedikit mahasiswa yang mengaku baru mengenal keris lebih dalam melalui kegiatan ini, sehingga mendorong ketertarikan baru terhadap warisan budaya Nusantara.

Acara akan berlangsung selama beberapa hari ke depan dan terbuka untuk umum. Bagi mahasiswa maupun masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh tentang filosofi maupun proses pembuatan keris, kegiatan ini menjadi kesempatan langka untuk bertemu langsung dengan para ahli dan pecinta keris dari berbagai kalangan.

(Lourenso Aditya)

Editor : Heru Pratomo
#keris #UIN Sunan Kalijaga #Literasi Budaya #Keraton Yogyakarta #FITK #UNESCO #Pegiat #Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan #rachmat