Di tengah tantangan era digital, sekelompok dosen dan mahasiswa dari Universitas Selamat Sri Kendal menghadirkan inovasi baru dalam pelestarian budaya lokal. Mereka menggelar program bertajuk Kelas Kreatif Seni Tradisi Digital: Revitalisasi Seni Pertunjukan, Konten Kreatif, dan Website Padepokan Tjipta Boedaja di Magelang, selama tiga hari.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Inovasi Seni Nusantara yang mendapat pendanaan dari DPPM serta dukungan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemdiktisaintek. Melalui kegiatan ini, seni tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diberi ruang untuk beradaptasi dengan dunia digital.
Ketua pelaksana kegiatan, Suparti menjelaskan, kegiatan ini berfokus pada penguatan literasi digital bagi pelaku seni dan generasi muda. Mereka ingin pelaku seni tradisi tidak hanya bisa tampil di panggung, tetapi juga mampu mendokumentasikan, mengelola, dan mempublikasikan karya mereka secara digital.
"Dengan begitu, seni tradisi bisa menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda," ujar Suparti, Selasa (11/11).
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta yang terdiri dari seniman lokal, pelajar, dan pemuda desa mengikuti beragam kelas pelatihan. Di antaranya, kelas kreatif seni pertunjukan yang membekali generasi muda dengan keterampilan dasar seni tradisi.
Baca Juga: 1.200 Warga Kulon Progo Mengalami Ganguan Jiwa, Tapi Fasilitas Penanganan Terbatas
Lalu, pelatihan fotografi, editing, dan optimalisasi media sosial yang difokuskan untuk tim dokumentasi muda. Kemudian, workshop pembuatan website dan pendampingan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar karya seni di padepokan memiliki jejak digital yang terlindungi secara hukum.
Salah satu hasil nyata dari kegiatan ini adalah lahirnya website resmi Padepokan Tjipta Boedaja, yang kini menjadi wadah publikasi kegiatan, dokumentasi pertunjukan, dan promosi seni Magelang berbasis teknologi.
Selain dukungan dari Kemdiktisaintek dan Universitas Selamat Sri, kegiatan ini juga melibatkan komunitas seni dan pemuda lokal. Kolaborasi lintas generasi tersebut memperlihatkan semangat baru dalam menghidupkan kembali identitas budaya Magelang di tengah perkembangan teknologi.
Suparti menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga model revitalisasi seni tradisi berbasis digital yang bisa diterapkan di daerah lain. Mereka ingin membangun ekosistem budaya yang kreatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap zaman.
"Pelestarian budaya tidak cukup hanya di panggung, tetapi juga harus hidup di ruang digital," lontarnya.
Ketua sekaligus pengelola padepokan, Sitras Anjilin menyambut positif inisiatif ini. Selama ini, padepokan hanya fokus pada latihan dan pementasan, sehingga belum banyak memanfaatkan teknologi. Melalui program ini, padepokan belajar mendokumentasikan pertunjukan, membuat konten kreatif, hingga mengelola website.
Baca Juga: Warga Banjarejo Sudah Terapkan Penjagaan Ternak Sebelum SE Bupati Terbit
"Ini langkah besar agar seni tradisi tetap hidup di tengah derasnya arus digital," lontarnya.
Dia menambahkan, kehadiran para akademisi dan mahasiswa memberi semangat baru bagi para seniman di padepokan untuk berkolaborasi dan beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. (aya)
Editor : Heru Pratomo