Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sewindu World Wayang Way di Borobudur, Upaya Menjaga Napas Budaya lewat Generasi Muda

Naila Nihayah • Sabtu, 8 November 2025 | 10:30 WIB

 

Para peserta menikmati kegiatan yang diadakan Sanggar Kinnara Kinnari, kemarin (7/11).
Para peserta menikmati kegiatan yang diadakan Sanggar Kinnara Kinnari, kemarin (7/11).

 

MAGELANG - Event World Wayang Way (WWW) di Borobudur menandai delapan tahun perjalanan pelestarian seni wayang di Indonesia. Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Wayang Dunia dan Hari Wayang Nasional itu mengusung tema 'Hal Ikwal Wayang' dengan fokus utama melibatkan anak-anak dan generasi muda dalam berbagai kegiatan edukatif dan kreatif.

Acara ini diinisiasi oleh Sanggar Kinnara Kinnari, salah satu komunitas seni yang konsisten memperjuangkan keberlangsungan budaya wayang sebagai warisan luhur bangsa. Pendiri sanggar, Eko Sunyoto menuturkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program tahunan Bulan Bakti Wayang.

Adapun tujuannya untuk memperkenalkan nilai dan filosofi wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) kepada generasi penerus. Menurutnya, wayang bukan sekadar karya seni, tapi juga sarana pendidikan moral dan pembentukan karakter.

"Seperti pepatah Jawa, mulat sarira hangrasa wani, rumangsa handarbeni, wajib melu angrungkebi, yang artinya berani mawas diri, merasa memiliki, dan wajib menjaganya," ujar Eko Jumat (7/11).

Selama sewindu penyelenggaraan, WWW menjadi ruang berkelanjutan bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal lebih dekat dunia pewayangan. Tahun ini, berbagai kegiatan disajikan dengan cara menyenangkan. Mulai dari workshop melukis dan menatah wayang, pentas dolanan wayang, laku wayang, hingga pementasan wayang orang.

Eko menilai, tantangan pelestarian budaya wayang di era modern bukan hanya pada minat yang menurun, tetapi juga pada cara penyajiannya. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pendekatan pendidikan budaya agar relevan dengan kehidupan generasi masa kini.

"Kita perlu kemasan baru yang kreatif dan dekat dengan keseharian anak-anak. Misalnya memperkenalkan nilai-nilai budaya melalui bahasa ibu dan metode pembelajaran interaktif," katanya.

Dia berharap, kegiatan seperti WWW dapat menjadi jembatan antara tradisi dan generasi digital, sehingga wayang tetap hidup, relevan, dan dicintai di masa mendatang.

Selain itu, melalui kegiatan seperti ini, semangat pelestarian budaya wayang terus tumbuh dari akar rumput.

Salah seorang peserta, Naila mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Dia mendapat kesempatan belajar langsung tentang proses pembuatan wayang, mulai dari menatah, mewarnai, hingga mengenal karakter tokoh-tokoh pewayangan.

"Dulu cuma lihat wayang, tapi sekarang bisa pegang dan bikin sendiri. Rasanya bangga," ujar siswi kelas 5 SD Borobudur 2 itu.

Menurutnya, pengalaman itu membuka pandangan baru bahwa wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga media pembelajaran yang sarat pesan moral. Terlebih, wayang banyak mengajarkan tentang kebaikan dan keberanian. (aya/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Borobudur #world wayang way borobudur #sewindu #Hari Wayang #Sanggar Kinnara Kinnari