Suasana Auditorium Sanata Dharma tampak ramai dipadati banyak orang, Selasa malam (4/11). Suara alunan musik bergema di seluruh ruangan. Alunan musik nan indah sekaligus enerjik membuat banyak orang di dalamnya terpukau dengan mata berbinar-binar.
Malam itu, semua orang terpukau dengan hadirnya Konser Serenade Bunga Bangsa. Konser ini dilaksanakan setiap tahun dengan waktu yang berbeda. Pada dasarnya, konser ini merupakan kegiatan internal yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY tetapi istimewa kali ini menghadirkan perayaan persahabatan antara DIY-Kyoto. Konser ini menghadirkan para musisi muda salah satunya Garda Gandara.
Dengan rambut ikal, berkulit sawo matang manis dan mengenakan pakaian kimono merah muda khas Jepang ia tampil penuh percaya diri. Senyum manisnya terpancar di depan sembari menunjukkan suaranya nan indah dan kepiawaiannya memainkan pianika.
Suara halus dan aransemen pianika dipadukan alat musik orkestra lainnya saling bertaut membuat simfoni yang mampu menerbangkan penonton. Umurnya masih 12 tahun tetapi kepercayaan dirinya tampil di muka umum patut diacungi jempol.
Kecintaannya pada musik sudah terlihat sedari kecil pada usia tiga tahun mempelajari musik. Hal ini bukan tanpa sebab karena kedua orang tuanya merupakan seorang musisi membuatnya tertarik terjun ke dunia musik seperti piano maupun pianika.
Tidak hanya itu, ia juga tertarik dengan dunia menyanyi. Dalam mempelajari musik ini, Garda bercerita pernah sempat mengikuti les dan akhirnya berhenti dan berganti kedua orang tuanya yang
mengajarinya.
Konser ini menjadi salah satu pengalaman lainnya dalam mengembangkan minat dan bakatnya dalam seni musik. Konser pertama sebagai pembuka karier Garda adalah The Sound of Color II With Andi Rianto.
“Jadi itu yang membuka karier aku, aku jadi dikenal banyak orang begitu,” ungkapnya membayangkan pencapaiannya pertama kali. Bahkan pertama kali ia maju untuk pertama kalinya tidak ada rasa takut yang ia tunjukkan. “Sebenarnya enggak ada sih, cuman rasa bangga aja,” ujarnya penuh kebanggan dan rasa
percaya diri.
Selanjutnya juga ia turut berperan sebagai soloist dalam konser Serenade Bunga Bangsa ke- XI dengan mendapatkan undangan untuk dapat hadir membawakan lagu dan menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan pianika.
Dalam konser ini, Garda bercerita bahwa ia juga mengalami kesulitan saat latihan ini
terutama dalam menghafal Bahasa Jepang meski begitu ia tetap senang menjalaninya.
“Pastinya ada ya tapi, tetap dijalani,” katanya dengan penuh optimis sembari menunjukkan senyum manisnya.
Tidak hanya itu, Garda juga ikut menyemplung menjadi seorang content creator di bidang musik. Dalam instagramnya @garda.gandara menunjukkan kesehariannya dan berbagai kegiatannya yang berhubungan dengan musik.
Pada tahun 2024 pun Garda pernah tampil di hadapan Presiden Republik Indonesia. Kehadiran Garda menunjukkan pesona dan generasi baru musik di Indonesia. Keberhasilan dan kepercayaan diri yang dimiliki Garda tentu tidak jauh dari dukungan orang tua dan keinginannya dalam belajar.
“Berkaryalah, jangan takut salah, nggak ada yang salah dan berusaha menginspirasi orang,” pesan Garda.
“Saya tahunya dari teman, terus dia bilang ‘ada acara kayak gini (orkestra) mau ikut gak? Ada audisinya’ (kata temannya). Oke akhirnya saya ikut, kirim porto(folio) terus apa namanya, (ada) audisi, ikut audisi. Alhamdulilah, Puji Tuhan, lolos jadi peserta orkes,” ceritanya.
Keinginannya untuk mendapatkan pengalaman, lingkup pertemanan yang baru dan luas serta ingin menemukan hal baru dan hebat di Yogyakarta membuatnya tertarik mengikuti kegiatan audisi orkestra ini.